BANJARMASIN, banuapost.co.id– Bank Kalsel kembali berbangga. Setelah sang dirut meraih gelar Doktor (Dr), giliran Komisaris Utamanya, Ary Bastari, menyelesaikan program studi S3 Ilmu Manajemen/MSDM pada Program Pascasarjana di UN Jakarta.
Meski di tengah kesibukkan sebagai komisaris utama, Ary Bastari mampu menyelesaikan program studinya dalam waktu cukup singkat, yaitu hanya selama 2 tahun 11 bulan. Bahkan dengan predikat kelulusan Cumlaude dengan IPK 3,90.
Sebelum dinyatakan berhak menyandang gelar Doktor, Ary Bastari terlebih dahulu mengikuti Ujian Disertasi Terbuka melalu video teleconference zoom, Jumat (21/8) pukul pukul 10.00 WIB.
Ujian selain dihadiri Ketua MPR RI, Gubernur dan Wakil Gubernur, Sekdsprov, Ketua DPRD Kalsel dan keluarga besar Bank Kalsel, juga tiga rektor dari universitas swasta, dengan diuji enam Guu Besar UN Jakarta.
Sedang desertasi yang didipertahankan: Model Kinerja Pelayanan Melalui Motivasi Kerja: Analisa Kepemimpinan Transformasional, Managerial Coaching, dan Komitmen Organisasional (Pada PT Bank Pembangunan Daerah Di Kalsel).
“Alhamdulillah berkat kerja keras dan dukungan semua pihak, saya bisa menyelesaikan program doktor saya di UNi Jakarta,” ucap Ary Bastari.
Soal latar belakang mengangkat desertasi itu, menurut Ary, tidak lepas dari pandangannya terhadap tingginya tingkat persaingan dalam perusahaan modern sekarang agar tetap mampu bertahan dan berkembang di era global.
“Hasil desertasi yang saya buat menunjukan, kinerja pelayanan karyawan dipengaruhi motivasi kerja. Selanjutnya motivasi kerja karyawan dipengaruhi managerial coaching, komitmen organisasional, dan kepemimpinan transformasional,” jelasnya.
Dalam desertasi itu, ada beberapa saran yang turut dimasukkan, utamanya untuk PT Bank Pembangunan Daerah di Kalsel yang menjadi objek penelitian.
Salah satunya, Bank Kalsel selayaknya membangun interpersonal yang baik. Artinya, para pemimpin unit kerja harus mudah ditemui staf.
”Ini memberi makna, semua pemimpin unit kerja harus selalu siap membantu karyawan dan memiliki kebijakan pintu terbuka. Sehingga staf bisa mudah berdialog dan membuka diri untuk mendapatkan masukan,” jelasnya. (ham/foto: ist)