RANTAU, banuapost.co.id– Melalui program Masyarakat Produsen Pangan Indonesia (MPPI), Amanah Borneo Park dan Global Wakaf Aksi Cepat Tanggap (ACT) Kalsel membeli 10 ton gabah di Desa Binderang, Kecamatan Lok Paikat, Kabupaten Tapin Rabu (16/9).
Asmuri, salah satu petani yang menjadi penerima manfaat, mengaku senang dengan program dari GW ACT Kalsel tersebut.
“Saya terbantu sekali dalam hal pemasaran hasil panen. Alhamdulillah dari hasil panen, bisa beli bahan bangunan untuk rumah. Selain itu juga menjamin lahan baru sebanyak 16 borong selama 2 tahun,” katanya.
Dengan bertambahnya lahan, lanjut Asmuri, kami bisa bercocok tanam lebih banyak. Sehingga hasil pertaniannya pun semakin banyak juga nantinya.
Hal senada juga disampaikan Ramli, Ketua Gapoktan (Gabungan Kelompok Tani) Sewarga. Ia menyampaikan terima kasih atas kerjasama yang telah terjalin. Adanya pembelian beras dari GW ACT, membantu menjaga produktivitas kelompoknya.
Gapoktan Sewarga termasuk memiliki fasilitas lengkap untuk mengolah hasil panen. Mulai dari tempat pengeringan berbasis teknologi, penggilingan, penyimpanan hingga pengemasan.
“Semua tersedia. Namun selama ini, kami masih kekurangan dalam hal pemasaran. Sehingga tidak setiap saat gapoktan berproduksi,” tutur Ramli.
Sementara Kepala ACT Kalsel, Zainal Arifin, mengatakan, program MPPI merupakan ikhtiar dari ACT Kalsel bersama Amanah Borneo Park untuk menyiapkan sektor pangan agar tetap produktif dan berkembang tanpa hambatan.
Terutama di masa pandemi Covid-19 yang meyebabkan dampak signifikan terhadap sektor ekonomi yang semakin pincang. Program MPPI juga bertujuan untuk meredam dampak kemiskinan.
“Semua elemen masyarakat harus bisa berkontribusi. Tujuannya agar peran sosial juga bisa menyeluruh untuk menyentuh masyarakat yang membutuhkan,” katanya.
GW ACT Kalsel bersama Amanah Borneo Park dalam menyikapi ini, berupaya untuk menghadirkan program MPPI. Solusi untuk perkuat sektor pangan dan sebagai dukungan kepada petani agar tetap meningkatkan hasil produktivitas pertanian.
Menurut Zainal, dengan 10 ton gabah ini GW ACT Kalsel memiliki stok beras sebanyak 6 ton. Pengadaan beras ini tentu menjadi bentuk lembaga dalam menjaga ketahanan pangan untuk masyarakat di Kalsel.
“Semoga semakin banyak pihak yang terlibat dalam program ini ke depannya,” harap Zainal. (oie/foto: olivia)