BANJARMASIN, banuapost.co.id– Tidak banyak calon kepala daerah yang memiliki program dalam bidang pertanian. Padahal sejak negeri ini belum bernama Indonesia, nenek moyangnya sudah dikenal sebagai masyarakat agraris.
Jadi jangan pernah menyalahkan sejarah! Tidak mungkin mengajak petani meninggalkan sawah untuk turun ke pekerjaaan lain tak ada hubungannya dengan bercocok tanam dan mengolah tanah.
Program duet milenial di kontestasi Pilkada Tanah Bunbu 2020, Syafrudin H Maming (SHM)- M Alpiya Rahman (MAR), dalam bidang pertanian ini, tentunya bukan tanpa alasan. Indonesia, negeri dengan 2/3 wilayahnya adalah laut, sejak dahulu didiami suku yang sebagian terbesarnya berbudaya agraris.
Seperti diketahui, duet SHM-MAR yang mengusung jargon: “Bersama Rakyat Kita Menang” didukung tiga partai politik, PDI Perjuangan, Gerindra dan PPP.
Budidaya padi di sawah misalnya, menurut SHM yang mantan anggota DPRD Kalsel dua priode itu, sudah dikenal 3.000 tahun sebelum masehi di wilayah nusantara dan masyarakat Asia Tenggara lainnya.
“Begitupun di tengah globalisasi, sektor pertanian masih menjadi salah satu penopang utama perekonomian negara,” tegas mantan anggota DPR RI tersebut, belum lama ini.
Secara nasional, lanjut Cuncung, sapaan akrabnya, kontribusi sektor pertanian dari sisi produksi, menempati urutan ketiga setelah sektor industri dan sektor perdagangan.
Berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS) 2019, sektor pertanian menyumbang 12,72 persen dari total Produk Domestik Bruto (PDB) yang mencapai Rp 15.834 triliun. Fakta ini menjadikan Indonesia dikenal dunia sebagai negara agraris yang cukup produktif.
Begitupun di tengah pandemi global Covid-19, pertanian merupakan sektor yang tetap memberikan pertumbuhan positif di saat sektor lainnya ‘nungging’. Bahkan laju pertumbuhan ekonomi kuartal II/2020, menunjukkan kontraksi dengan pertumbuhan minus 5,32 persen.
Meski demikian, kontribusi sektor pertanian setiap tahun semakin melambat. Pada 2015 kontribusi sektor pertanian terhadap PDB masih mampu mencapai 13,49 persen. Kontribusinya berkurang hampir satu persenan sampai 2019.
Beberapa penyebab perlambatan ini di antaranya; semakin berkurangnya rumahtangga pertanian, rendahnya nilai tukar produk pertanian serta berkurangnya lahan pertanian setiap tahunnya.
Selain itu, petani Indonesia didominasi berusia tua. Berdasarkan data BPS dari hasil Survey Pertanian Antar Sensus (SUTAS) 2018, sebesar 28,33 persen petani Indonesia berada di kelompok usia 45-54 tahun.
“Bahkan umumnya, para petani kita dalam mengolah lahan pertanian, dilakukan secara konvensional. Baik dalam memilih tanaman, masa tanam, masa panen dan pasca panen,” jelas SHM.
Di samping itu, lanjut putra mantan Pambakal Batulicin ini, terbatasnya lahan pertanian yang dikuasai serta belum membaiknya harga produk pertanian, berakibat minat terhadap sektor ini menurun.
“Padahal dalam jangka panjang, kondisi ini sangat mengkhawatirkan ketahanan pangan. Akibatnya, ketergantungan kepada impor kemungkinan tidak bisa terhindarkan,” ucap Cuncung.
Karena itu untuk antisipasinya, sambung saudara Bupati Tanah Bumbu ke-2 dua priode, Mardani H Maing (MHM) ini, perluasan lahan pertanian dengan pembukaan cetak sawah baru, peningkatan kualitas hasil pertanian dengan pembuatan bibit unggul yang dapat menyesuaikan iklim dan kualitas tanah.
“Dengan terpenuhi sarana alat pertanian yang menunjang poduksi pertanian, diharapkan menjadikan Tanah Bumbu sebagai lumbung pangan Pulau Kalimantan, sekaligus juga meningkatkan perekonomian masyarakatnya,” pungkas mantan Kades Pulau Burung itu. (yb/foto: ist)