BANJARMASIN, banuapost.co.id– Jika calon Gubenur Kalsel nomor urut 01, H Sahbirin Noor, komitmen terhadap save Meratus, berbeda dengan rivalnya, Prof Denny Indrayana, menyentil persoalan pertambangan di Kalsel yang koruptif.
Namun soal isi perut bumi ini dikemukakannya setelah debat publik pertama selesai, Rabu (4/11) malam kisaran pukul 22:00 Wita.
Menurutnya, salah satu akar permasalahan yang terjadi di Kalsel, yaitu korupsi di bidang Sumber Daya Alam (SDA) dan pertambangan, setelah mendapat informasi dari Bambang Widjojanto, mantan Wakil Ketua KPK.
“Saya tanyakan bagaimana mengenai masalah (SDA) dan pertambangan di Kalsel. Mas Bambang mengatakan, Kalsel itu merupakan contoh nomor 1 terburuk untuk korupsi SDA,” ujar Prof Denny mengutip penjelasan sohibnya itu.
Pernyataan ini bagi Denny bukan suatu hal yang main-main. Apakah benar yang terjadi di lapangan, tentu bisa dirasakan dan dilihat.
Selain itu, dalam pilkada Gubenur Kalsel ini yang menjadi PR untuk para calon pasangan yang terpilih, ke depannya bagaimana dalam mengelola SDA dengan lebih baik, amanah, dan tidak terbentur dengan kepentingan serta tidak koruptif.
Kondisi seperti ini, tentu menjadi tantangan paling besar bagi paslon Gubernur Kalsel nomor urut 01.
“Kita tahu bagaimana usaha Pak Muhidin dan Pak Sahbirin. Tentu fair kita ungkapkan, tapi semua kembali lagi kepada pemilih,” imbuhya.
Ditegaskan Prof Denny, masalah tambang merupakan salah satu isu krusial. Namun meminta untuk tidak menanggapi dengan salah paham. Karena pihaknya tidak menolak tambang, tidak menolak investasi. Yang ditolak hanya usaha yang koruptif dan menyalahi aturan, serta dianggap merusak.
“Silahkan investasi di Kalsel, tapi berusahalah menjaga aturan-aturan main, menjaga kelestarian lingkungan kita. Memperhatikan perizinan, tidak koruptif dan perhatikan masyarakat-masyarakat yang harus sebesar-besarnya dimakmurkan dari hasil kekayaan alam Kalsel,” tandasnya. (ham/foto: hamdiah)