JAKARTA, banuapost.co.id– Rekor lagi penambahan korban terinfeksi virus sorona di Indonesia. Kali ini 21.807 warga yang diketahui dari hasil pemeriksaan 142.731 spesimen sepanjang Rabu (30/6). Dengan tambahan itu pula, Covid-19 totalnya jadi 2.178.272 kasus. 239.368 pasien di antaranya dalam perawatan.
Menurut catatan banuapost.co.id, dalam sepuluh hari terakhir ini setidaknya ada 6 rekor penambahan kasus positf. 21 Juni: 14.536 kasus, 23 Juni: 15.308 kasus, 24 Juni: 20.574 kasus, 26 Juni 21.095, 28 Juni 21.342 kasus.
Dilansir dari laman covid19.go.id hari ini, kesembuhan bertambah 10.807 pasien. Sehingga totalnya menjadi 1.880.413 orang. Sementara yang meningal dunia, juga bertambah 467 pasien. Kumulasinya sejak pandemi awal Maret tahun lalu tercatat jadi 58.491 kasus.
Sedang suspek atau diduga cikal bakal positif terinfeksi virus corona, pemerintah masih memantau terhadap 130.443 orang tersebar di 510 kabupaten/kota di 34 provinsi.
Sebelumnya, Selasa (29/6), tercatat total 2.156.465 kasus positif virus corona. 1.869.606 pasien sembuh, dan 58.024 meninggal dunia.
Berikut sebaran 21.807 kasus baru yang dilaporkan 32 provinsi (Gorontalo dan Maluku nihil): DKI Jakarta: 7.680, Jawa Barat: 4.473, Jawa Tengah: 2.335, Jawa Timur: 1.203, DI Yogyakarta: 892, Kalimantan Timur: 489, Banten: 486, Sumatera Barat: 452, Kepulauan Riau: 421 kasus.
Kemudian, Riau: 382, Bengkulu: 264, Sumatera Selatan: 223, Bali: 221, Sulawesi Selatan: 212, Lampung: 197, Kalimantan Barat: 192, Sumatera Utara: 188, Kalimantan Tengah: 188, Nusa Tenggara Timur: 178, Papua Barat: 162 kasus.
Disusul, Bangka Belitung: 159, Kalimantan Utara: 159, Jambi: 107, Maluku Utara: 100, Aceh: 98, Kalimantan Selatan: 82, Sulawesi Tengah: 68, Sulawesi Tenggara: 68, Sulawesi Utara: 47, Sulawesi Barat: 39, Papua: 35, Nusa Tenggara Barat: 7 kasus.

Dengan terus jatuhnya korban akibat paparan Cocid-19 ini, masyarakat diminta berandil menekan penyebararanya dengan disiplin menerapkan protokol kesehatan. Seperti memakai masker, selalu mencuci tangan dengan sabun, menjaga jarak, menjauhi kerumunan, membatasi mobilitas dan interaksi.
Imbauan demikian tentunya bukan tanpa alasan. Pasalnya yang menjadi korban semakin banyak. Bahkan tak memandang status maupun usia. Ahli di bidang medis pun banyak yang jadi korban hingga meninggal dunia. (yb/ilust: ist)