JAKARTA, banuapost.co.id– Pemerintah melalui Kementerian Kesehatan (Kemenkes) bersama Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) dan tim dokter RS Cipto Mangunkusumo (RSCM), membentuk tim untuk menyelidiki kasus gangguan ginjal akut pada anak.
Menurut Tenaga Ahli Utama Kantor Staf Presiden (KSP), dr Brian Sri Prahastuti, Kemenkes juga sudah menerbitkan tata laksana dan manajemen klinis gangguan ginjal akut progresif Atipikal. Hal itu, akan dijadikan sebagai kerangka acuan bagi fasilitas kesehatan jika menemukan anak dengan kasus tersebut.
“Kami minta masyarakat untuk tetap tenang dan tidak panik. Karena pemerintah sudah bekerja untuk menyelidiki kasus ini (gangguan ginjal akut pada anak),” ungkap Brian melalui keterangan resminya, Minggu (16/10).
Sekadar informasi, IDAI melaporkan adanya penambahan kasus gangguan ginjal akut atipikal atau gangguan ginjal akut misterius pada anak. Kasus tersebut bertambah menjadi 152. Angka ini meningkat dari sebelumnya, yakni 146 kasus. Jumlah tersebut didapat dari laporan 16 cabang IDAI di seluruh Indonesia.
Hingga saat ini, tercatat sudah 14 provinsi yang melaporkan adanya kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak. DKI Jakarta menjadi yang daerah yang terbanyak, diikuti Jawa Barat, Sumatera Barat, Aceh, Bali dan Yogyakarta.
Brian menilai, peningkatan jumlah kasus gangguan ginjal akut misterius pada anak tidak boleh disepelekan. Ia mengingatkan kepada para orang tua untuk waspada jika anak-anaknya menunjukkan beberapa gejala awal dari kasus tersebut.
Dibeberkan Brian, gejala awal dari kasus gangguan ginjal akut yakni, batuk, pilek, diare, muntah dan jumlah urine sedikit, atau tidak ada produksi urine sama sekali. Brian juga menekankan pentingnya langkah preventif untuk memberikan jumlah cairan yang cukup untuk anak-anak.
“Jika anak-anak mengalami keluhan di atas, kami mengimbau para orang tua untuk tidak melakukan self-diagnose. Sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter di fasilitas kesehatan terdekat,” pungkasnya. (yb/ilust: ist)