PELAIHARI,
banuapost.co.id– Sudah 74 tahun bangsa
ini merdeka, ternyata kesejahteraan belum dinikmati anak bangsanya. Seperti
yang dialami warga RT 12 Trans Baulin, Dusun Cempaka Baru, Desa Sebuhur,
Kabupaten Tanah Laut.
Kondisinya
benar-benar menggenaskan. Selain lokasinya jauh dari keramaian, saat ini
warganya pun tidak mendapat layanan perusahaan negara yang memonopoli setrum alias
PT PLN Persero.
Padahal
kawasan Trans Baulin yang berada di Kecamatan Jorong, merupakan salah satu
kecamatan lumbung energi di Kalsel. Karena dekat dengan PLTU Asam-Asam.
Ironis
memang. Disatu sisi PLTU Asam-Asam mampu menyuplai energi listrik sampai ke
pelosok desa di Kalsel dan Kalteng. Sementara Trans Baulin, Dusun Cempaka Baru,
yang jaraknya hanya belasan kilometer dari Asam-Asam, tidak kebagian listrik.
Kondisi
demikianlah yang dikeluhkan Abu Darin, Ketua RT 12 Trans Baulin, dan dua
warganya yang ditemui banuapost.co.id,
Kamis (21/3).
Bahkan
Abu Darin mengaku kepikiran untuk keluar dari pemukimannya sekarang.
“Kondisinya
tidak berubah sejak kami pertama tinggal di sini, belasan tahun lalu. Kami
memcoba untuk bertahan kalau-kalau ada perubahan, namun nyatanya sampai saat
ini kami tetap tidak mendapatkan apa yang dimiliki warga lainnya,” imbuhnya.
Kalah dengan ayam
Menurutnya,
warga desa yang masuk kawasan Kecamatan Jorong itu, untuk memenuhi kebutuhan
penerangan hanya mengandalkan genset atau listrik tenaga surya. Itupun kalau
mereka mampu. Sebagian besar masih menggunakan lampu temple.
RT
12 Trans Baulin yang dihuni sekitar 50 kepala keluarga, bahkan kalah dengan
kandang ayam yang terdapat tidak jauh dari pemukiman mereka.
Nurpandi,
salah seorang warga Trans Baulin, mengaku sudah menempati lokasi transmigrasi
ini sejak 2003 awal. Namun sejak itu
pula, tak mendapatkan penerangan dari PLN.
“Sudah
hampir 15 tahun kami menetap di lokasi ini, belum pernah ada jaringan listrik
sampai ke pemukiman kami,” kata transmigran asal Bantul, Yogyakarta itu.
“Kami
kalah dengan kandang ayam yang ada di dekat pemukiman kami,” tambah Nurpandi seperti
menyindir, sambil menunjuk kabel yang membentang di dekat pohon kelapa sawit.
Apa
yang diungkapkan Nurpandi diamini Anang Kadri, trans lokal, yang juga mengaku
sudah 15 tahun menetap di lokasi transmigrasi Baulin.
“Kami
berharap pemerintah memperhatikan pemukiman kami,” kata Anang Kadri yang mengaku
setiap malam hanya diterangi lampu temple. (zkl/foto: zul yunus)
