SAMPIT, banuapost.co.id– Si Anto ‘kecil’ lagi pengen, sementara ‘landasan’ sudah disiapkan, tapi bocah bawaan pasangan kumpul kebo cerewet, maka murkalah yang datang.
Seperti itulah nasib Laila (6), warga Desa Bantian Kecamatan Pulau Hanaut, yang tinggal di barak di kawasan Kecamatan Baamang, Sampit, Kotawaringin Timur.
Dia disiksa Anto dan ibu kandungnya sendiri, Yanti, pas di hari-hari kebutuhan biologis yang harus dipenuhi. Selain patah tangan kiri, luka dan lebam pun menghias tubuh mungilnya.
Karena kondisinya yang memprihatinkan, Laila pun ingin dititipkan di rumah sang datuk di Kecamatan MB Ketapang, Sampit. Namun teganya, Laila diturunkan di pinggir jalan begitu saja.
Warga yang menemukan Laila pun jadi geger dengan kondisi wajah babak belur dan tangan kiri patah, hingga melaporkan kasusnya ke Mapolres Kotim.
Namun penyelidikan jajaran Polres Kotim tak berlangsung lama. Kasus dapat diungkap setelah pasangan kumpul kebo itu mencoba kabur ke Banjarbaru, Senin (24/8).
Keduanya tertangkap di Bundaran Besar Kota Palangka Raya, gara-gara sepeda motor yang digunakan hanya memakai satu kaca spion dan knalpot blong.
“Dari hasil pemeriksaan sementara, penyiksaan ini terjadi tiga kali,” jelas Kapolres Kotim, AKBP Abdoel Harris Jakin, saat konferensi pers secara virtual, Selasa (25/8).
Penyiksaan, sambung kapolres, masing-masing terjadi pada 17 Agustus, 19 Agustus dan 21 Agustus, diawali dari Anto yang kesal karena korban cerewet.
Pada 17 Agustus, menurut kapolres, Anto marah dan mencubit korban sebanyak 5 kali, masing-masing bagian punggung, paha dan perut, sehingga sang anak menangis.
Karena menangis, sang ibu kandungpun ikut-ikutan marah, dan memukul menggunakan tangan kanan pada bagian paha sebanyak tiga kali.
Kemudian pada 19 Agustus saat si korban disuruh tidur tapi tidak mau, Anto marah lagi dengan memukul korban menggunakan tangan kanan pada bagian muka sebanyak dua kali, dan bagian belakang sebanyak 3 kali.
Tak hanya itu, Anto juga menginjak korban pada bagian perut, dan merendam kepala korban ke dalam baskom. Menjerit kena siksa, ibu kandungnya malah ikut-ikutan marah dan mencubit sebanyak 5 kali pada bagian dada.
“Selain mencubit, sang ibu juga menendang perut korban sebanyak satu kali,” jelas kapolres.
Kemudian pada penganiayaan terakhir, 21 Agustus, lanjut kapolres, ketika korban tengah diberi makan oleh sang ibu, tapi muntah.
Lagi-lagi Anto yang melihat, marah. Handphone yang ada di genggaman dihantamkan ke muka korban hingga telak bersarang di pelipis sebelah kiri, hingga meninggalkan luka.
“Seperti tak puas, Anto memelintir pergelangan tangan kecil Laila hingga menyebabkan patah,” imbuh AKBP Abdoel Harris.
Melihat kondisi sang bocah pada malam itu sangat payah sekali, akhirnya Minggu (23/8) pagi kedua pelaku membawanya ke rumah sang datuk.
Namun menurunkannya di pinggir Jl Kopi Selatan, Kecamatan MB Ketapang, berdekatan dengan warung penjual gorengan, ditinggalkan begitu saja. Hingga kemudian ditemukan warga.
“Sekarang ini kami prioritas untuk menyembuhkan luka-luka yang diderita korban, sekaligus mencoba menghilangkan trauma yang dialami,” tegas kapolres. (um/foto: ist)