BANJARBARU– Penggunaaan dana desa yang dikerjakan secara Padat Karya Tunai (PKT) dapat mendorong daya beli masyaralat.
“Karena pengerjaan proyek secara swakelola dengan upah harian atau mingguan, menjadi faktor pendorong warga desa untuk meningkatkan pendapatan mereka,” jelas Kepala Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa Provinsi Kalsel, H Gusti Syahyar, kemarin.
Program tersebut, lanjut mantan penjabat Bupati Tapin ini, tujuannya bisa lebih mengoptimalkan terciptanya lapangan kerja di desa. Sehingga meningkatkan pendapatan dan daya beli masyarakat, serta mendorong pertumbuhan ekonomi dan menurunkan kemiskinan.
Ditegaskannya, sebagian besar dana desa di Kalsel untuk pembangunan infrastruktur dasar, sarana dan prasarana mengejar ketertinggalan dari kelurahan.
“Nanti bila infrastruktur sudah terpenuhi, maka selanjutnya pengembangan usaha masyarakat yang kita titik beratkan pada kelompok pengrajin, sehingga dapat meningkatkan pertumbuhan ekonomi,” tandasnya.
.
Selama ini, sambung Syahyar, pemanfaatan dana desa di Kalsel masih berfokus pada proyek infrastruktur fisik, seperti jembatan, jalan usaha tani dan yang lainnya.
“Meski demikian, rata-rata serapan anggaran dana desa di Kalsel sudah baik, yakni mencapai 98 persen,” katanya.
Sementara Mukeri (53), warga Rantau Bujur, Aranio, Kabupaten Banjar, tak menampik perubahan infrastruktur fisik di daerahnya yang tergolong cepat.
Padahal sebelumnya, wilayahnya itu sempat puluan tahun terisolir, karena hanya dapat dilalui dengan menggunakan sarana air, klotok menyusuri sungai Riam Kanan.
“Satu satunya transportasi, warga menggunakan perahu jukung atau kelotok bermesin. Bisa dibayangkan jika ada warga yang sakit atau ibu mau melahirkan ingin ke rumah sakit atau pelayanan medis lanjutan,,” ujar Mukeri.
Namun sekarang di era kepemimpinan Paman Birin dan Rudy Resnawan serta kerjasama dengan Korem 101/Antasari dengan giat TNI Manunggal Membangun Desa (TMMD) jalan darat sudah terhubung hingga ke pusat kecamatan, bahkan ke kabupaten.
“Kami mengucapkan terima kasih jalan di desa kami dibangun setelah puluhan tahun warga desa, termasuk sejumlah desa tetangga seperti Bunglai, Rantau Balai, Rantau Bujur dan desa lainnya tidak bisa diakses kewat jalan darat,” ujar pria yang berprofesi sebagai petani ini. (my/foto: hum)