Meski Pemilihan
Umum (Pemilu) 2019
menyisakan waktu tiga bulanan lagi, 17 April
mendatang, intensitas
para calon legislatif, baik yang mengincar kursi DPR RI, DPRD Provinsi maupun DPRD Kabupaten/Kota, mulai mengeliat.
Namun demikian, ada ganjalan ketika
berbuat baik untuk rakyat dinilai sebagai
simbolis belaka. Karena meski
datang dari nurani,
tidak serta merta mendapat
penghargaan.
Di tengah menuju pesta demokrasi
lima tahunan ini, aktivitas berbaur dengan masyarakat sudah
menjadi keharusan bagi caleg.
Jadi tidak aneh hampir setiap
caleg kini menyambangi warga dari pintu ke pintu, tentunya untuk mendapatkan hasil optimal mengingat aturannya semakin
ketat.
Terdaftar
dalam DPT (Daftar Pemilih Tetap), mendapat undangan mencoblos, diberi tanda
tinta, dan tak dibenarkan mencoblos beda TPS (Tempat Pemungutan Suara).
Sebagai warga, ada kebanggaan ketika para caleg menyambangi. Apalagi jika caleg rela manggut-manggut mendengar berbagai
masalah yang kini menghimpit.
Mulai dari fasilitas jalan yang tak kunjung
ada perbaikan, harga kebutuhan pokok yang terus
merangkak naik, hingga pelayanan sektor publik untuk urusan
pendidikan dan kesehatan.
Namun mengingat
waktu yang semakin sempit, sebagian caleg secara tidak sadar mulai berlaku liar.
Mereka nyaris tidak
peduli terhadap hak publik untuk menikmati kenyamanan. Pemasangan atribut
spanduk, baliho, banner, stiker, maupun poster, sudah menjurus kepada tindakan berbahaya.
Caleg pun kini dituntut untuk lebih jeli
memasang atributnya di tempat yang benar-benar steril. Mudah dibaca setiap orang,
berkesan, dan tidak mengganggu kenyamanan publik.
Untuk
menjangkau itu semua, tentu
membutuhkan banyak biaya dan kerja keras meraihnya. Sebab tidak cukup jika caleg terkenal
hanya karena nama dan fotonya terpampang di setiap sudut jalan atau media massa.
Mau tidak
mau, mendekatkan diri ke
masyarakat menjadi poin tersendiri yang kelak selalu diingat oleh masyarakat.
Momen itu kini di ambang mata.
Karena itu semoga
prediksi April 2019 sebagai bulan dan
puncaknya ketimpangan sosial tidak
terjadi. Sebab masing-masing
caleg telah bertarung habis-habisan mengeluarkan seluruh hartanya untuk
mempromosikan diri dan partainya.
Sedang rakyat butuh perhatian terus menerus, karena semboyan iklan para caleg: “kami memberi bukti, bukan janji” selalu menjadi acuan dan pegangan. Tidak sekadar cinta rakyat karena pemilu. Semoga! (yebe/aktivis media)
