Penghuni di negeri ke pulauan ini sudah semakin tersibukkan dengan urusannya masing-masing. Kaum borjuis sibuk mengurusi dan menghitung kekayaan dan aset perusahaannya –meski diperoleh dengan cara culas sekalipun–, sembari terus meningkatkan kesejahteraan pribadi, keluarga, dan golongannya.
Mereka terjebak dalam gaya hidup yang glamour, hedonis, individualis. Sehingga tak terlintas sedikit pun dalam benak mereka untuk berbagi dengan si miskin di pinggir jalan atau si gelandangan di kolong jembatan.
Sementara di pihak lain, para pejabat pemerintah dan elite politik, tersibukkan oleh masalah jabatan, pangkat dan kedudukan. Padahal seharusnya, mereka berjuang untuk rakyat.
Mereka seharusnya menjadi pelayan masyarakat. Tetapi nyatanya, mereka tidak pernah mau jadi pelayan. Selalu ingin dilayani dan dihormati. Pelayan yang tidak tahu diri..!
Jadi jangan heran jika masalah kemiskinan adalah masalah sosial yang tidak pernah terpecahkan di negeri yang selalu dirundung bencana ini. Dari tahun ke tahun jumlahnya bukan semakin berkurang, sebaliknya membengkak.
Di samping itu ada juga kelompok yang sibuk mencalonkan diri menjadi wakil rakyat di parlemen. Mereka melakukan kampanye dengan tidak sehat. Bukan karena melanggar aturan, tapi karena modelnya yang kampungan dan murahan.
Mereka membuat spanduk, kaos, dan kalender dengan poster dan jargon masing-masing, plus janji manis yang selalu jadi pil pahit bagi rakyat.
Padahal kalau boleh jujur, rakyat saat ini, terutama kaum miskin, tidak membutuhkan spanduk, kalender dan janji-janji manis. Mereka lebih membutuhkan uluran tangan, bantuan, perhatian dan santunan. Mereka butuh lapangan kerja, butuh sesuap nasi untuk menyambung kehidupan.
Karena itu alangkah baiknya jika dana kampanye setiap caleg dialihkan untuk sesuatu yang jauh lebih berharga demi kesejahteraan rakyat jelata. Dikumpulkan, dihimpun oleh lembaga tertentu dan disalurkan kepada mereka yang selalu mempertanyakan: “apa besok makan”. Bukan pada mereka yang berkata: “besok makan apa”.
Sedang di pihak lain, sebagian kaum elite agama, entah itu kiai atau ulama, selalu sibuk dengan ibadah-ibadah ritual yang sifatnya individual. Mereka terlalu asyik dan khusyuk dalam shalat dan munajatnya, sehingga umat pun terabaikan.
Mereka tenggelam dalam ibadah-ibadah ritual formal dan mengurusi hal-hal yang bersifat lahiri semata. Mereka hanya bisa berbicara masalah shalat dan zakat, tanpa disertai usaha penanaman nilai-nilai moral shalat dan spiritualitas beragama pada masyarakat.
Mereka hanya mengajarkan konsef sabar dan pasrah pada orang-orang miskin, tapi tidak pernah mau berbagi. Padahal jika diperhatikan, sebagian dari mereka, termasuk kalangan mampu dan berada.
Sebagian mereka hanya mampu mengutuk orang-orang yang tidak shalat berjamaah, melalaikan shalat dari waktu yang semestinya, dan mencap orang yang demikian sebagai kaum yang mendustakan agama.
Sejatinya, orang yang mendustakan agama bukan orang yang tidak melakukan shalat berjamaah atau orang yang melalaikan shalat dari waktunya, karena yang demikian jelas diampuni. Apalagi ketika kondisi memaksa mereka berbuat demikian.
Justru yang mendustakan agama adalah mereka yang berpaling dari nilai-nilai moral dan spiritual dalam shalat. Shalat mereka hanya sebatas lahiri belaka, tidak sampai pada tataran batini (penghayatan ritual keagamaan). Sehingga kesalehan mereka hanya bersifat individual , tidak sampai pada tahap kesalehan sosial.
Islam artinya penyelamatan. Bukan salam yang artinya keselamatan. Dari segi penamaannya ada nuansa tersendiri dan ada semacam tuntunan untuk bergerak keluar menjadi penyelamat. Karena itu dalam firman Allah didapati, Allah mencintai muhsinin (orang-orang yang berbuat baik) bukan hasinin (orang-orang yang baik).
Bahkan dalam sabda Nabi Muhammad SAW pun kita temukan ungkapan senada: “Sebaik-baik manusia adalah yang paling bermanfaat bagi orang lain”. Jadi bukan seberapa banyak yang dilakukan, tapi seberapa banyak yang diberikan. Sekarang tidak terketukkah? (yebe/aktivis media)