Meski pelaksanaan pemilihan presiden dan wapres masih tujuh bulan lagi, atmosfir politik dari hari ke hari semakin terasa tak nyaman. Bahkan kosa kata sontoloyo hingga tampang Boyolali, digoreng masing-masing pendukung.
Belum usai kata yang sering dipakai sebagai umpatan bagi kalangan ‘kelas bawah’, muncul genderuwo, makhluk kasat mata inipun ikut terbawa-bawa. Terakhir buta dan budek dari seorang calon ‘negarawan’.
Suhu panas terbersit pula pada paket acara khusus debat politik yang didesain media elektronik. Setiap malam menghadirkan koalisi partai pengusung untuk berdebat, menjual kehebatan jagoannya masing-masing. Terkadang debat menjadi ajang untuk saling menjatuhkan dan tanpa etika.
Memang dipahami, menjelang digelarnya pemilu legislatif maupun pemilihan presiden yang waktunya tidak terpaut jauh, partai politik peserta pemilu 2019 mulai tancap gas menyusun strategi untuk memenangi pertandingan.
Ibarat permainan catur, serangan dari berbagai arah dilakukan untuk segera mungkin menyudahi pertarungan. Demikian pula partai politik, semakin gencar melakukan jurus-jurus kampanye untuk menarik simpati publik, termasuk mengeluarkan statement politik.
Tingkah laku para politikus semakin kentara. Siapa yang hanya sekadar politisi dan siapa yang sudah berjiwa negarawan. Padahal negarawan, tujuan utamanya untuk kepentingan bangsa dan negara, serta kemakmuran rakyat.
Mencermati panggung politik nasional yang dipertontonkan petinggi partai politik saat ini, kian tereduksi menjadi sekadar perebutan kekuasaan.
Perolehan suara dalam pemilu legislatif dan pemilu presiden jadi kepentingan tertinggi. Visi dan kepentingan jangka pendek, serta sikap pragmatis untuk meraih kekuasaan, sebagai tanda paling nyata para politikus masih belum berjiwa negarawan.
Seharusnya politisi belajar menjadi negarawan. Berpolitik yang bermartabat dan bermoral, bukan ajang rebutan dan permainan kekuasaan. Tetapi selalu mengarah pada kepentingan yang lebih besar, yakni masa depan bangsa.
Terlebih lagi negeri ini bukan sedang dalam kondisi serba baik. Korupsi, krisis ekonomi global, bahkan ancaman disintegrasi, masih menjadi tantangan serius.
Sementara peradaban politik bangsa ini masih berada pada tingkat rendah. Hal itu antara lain terlihat dari tingkah pemimpin politik yang mempertahankan sikap dan larut dalam pragmatisme.
Begitupun dengan dukungan suara yang didapat, juga membuktikan masih banyak warga terpikat dengan popularitas tokoh. Bukan kinerja dan kapasitas calon pemegang mandat.
Melihat realitas politik sekarang ini, lagi-lagi harus kembali bersabar untuk menantikan lahirnya negarawan baru. Namun demikian, siapapun yang menjadi pemimpin nasional adalah pilihan rakyat yang pantas dan harus didukung bersama.
Mari wujudkan kedamaian sejati untuk kepentingan bersama yang lebih besar, yaitu kemajuan Indonesia Raya. (yebe/aktivis media)