Meski beberapa bulan lagi dihelatnya pesta demokrasi lima tahunan, entah itu pileg maupun pilpres 2019, hingar bingar politik semakin memanas. Bahkan tingkah laku para politikus kian kentara. Siapa sekadar politisi dan siapa yang sudah berjiwa negarawan.
Sadar atau tidak dari sekian kali pilres di helat, rakyat sudah semakin cerdas. Bisa menilai sifat dan maksud maupun tujuan para politisi, ternyata hanya mengejar kekuasaan semata. Mewujudkan kesejahteraan rakyat, masih jadi janji, janji dan janji.
Panggung politik nasional yang dipertontonkan petinggi partai politik saat ini, kian tereduksi menjadi sekadar perebutan kekuasaan. Perolehan suara dalam pemilu, jadi kepentingan tertinggi dan jangka pendek. Itu menandai politisi masih belum berjiwa negarawan.
Politik yang bermartabat dan bermoral, bukanlah ajang rebutan dan permainan kekuasaan. Tetapi selalu mengarah pada kepentingan yang lebih besar daripada kepentingan golongan, yakni kepentingan bangsa. Padahal negeri ini bukan sedang dalam kondisi serba baik. Korupsi, krisis ekonomi global, bahkan ancaman disintegrasi, masih menjadi tantangan serius.
Sementara peradaban politik bangsa ini, masih berada pada tingkat rendah. Hal itu antara lain terlihat dari tingkah pemimpin politik yang mempertahankan sikap feodal dan larut dalam pragmatisme.
Bahkan mereka tidak sungkan mendorong lahirnya generasi politisi ‘penyusu’. Generasi yang bisanya hanya menumpang popularitas orangtua atau keluarga dekat untuk mendapat posisi politik, meskipun belum memiliki apa pun untuk ditawarkan kepada bangsa dan negara.
Jadilah anak pejabat negara dan petinggi parpol terpilih, meski pernyataan politik sekalipun belum pernah disampaikan, bahkan di atas panggung kampanye sekali pun.
Begitupun dengan dukungan suara yang didapat, juga membuktikan masih banyak warga terpikat popularitas tokoh yang membayangi, terlebih lagi dengan sebaran lembara rupiah. Bukan karena kinerja dan kapasitas calon pemegang mandat rakyat itu.
Melihat realitas politik sekarang ini, rakyat harus kembali bersabar hingga lima tahun mendatang untuk menyaksikan perbaikan yang lebih signifikan.
Meski demikian tak putus harapan pada politisi senior yang saat ini sudah menguasai panggung politik agar bisa menunjukkan sikap kenegarawanan. Kekanak-kanakan kalau berpikir hanya bisa berperan ketika mewakili parpol duduk di pemerintahan. Kalau takut jadi oposisi, jangan jadi kader partai.
Berharap pada pemilu presiden 2019, tumbuh para negarawan baru yang bisa menerima kekalahan dan kemenangan dengan lapang dada, tidak ada dendam dan permusuhan.
Siapapun yang menjadi pemimpin nasional, yakni presiden maupun wakil presiden adalah pilihan rakyat yang pantas didukung bersama. Ayo wujudkan kedamaian sejati untuk kepentingan bersama yang lebih besar, kemajuan Indonesia Raya. (yebe/aktivis media)