Kecenderungan
partai politik lebih memilih sosok di luar
kadernya sendiri, seperti dari kalangan artis maupun profesional, untuk
kemudian dijadikan sebagai calon legislatif,
jadi fenomena tersendiri di panggung politik Tanah Air pasca reformasi.
Meski sah-sah
saja dilakukan, namun harus dengan
hati-hati. Sebab panggung politik bukan
tempat lebih mendongkrak popularitas yang sudah didapat sebelumnya.
Panggung politik adalah tempat
orang-orang yang berani berseberangan bahkan dicemooh dalam hal mempertahankan
argument jika kebijakan sama sekali tidak pro rakyat.
Terlebih lagi, fenomena
menarik dukungan suara melalui artis yang
tidak jelas rekam jejaknya dalam kancah politik seperti
ini, justru
menunjukkan lemah dan dangkalnya kondisi perpolitikan di Tanah Air.
Kaderisasi parpol model seperti ini, tanpa disadari petinggi partai
telah menunjukan keburukan. Apa
iya kaderisasi berjalan secara benar, sehingga harus mencari
orang di luar kader.
Munculnya anggapan siapa pun bisa menjadi
politisi, seperti terjadi sekarang, bisa jadi memang menunjukkan kedangkalan
dan pragmatisme politik dari para petinggi
parpol.
Sehingga dengan
jalan apa pun,
parpol berupaya keras mencari dukungan suara dari masyarakat, tanpa merasa
perlu mengetahui apakah orang yang diambil benar-benar punya komitmen, sesuai dengan apa yang
diperjuangkan parpol.
Bukan berarti anti artis. Namun bukan kah profesi
mereka selama ini selalu memerankan orang selain dirinya? Lalu apa bisa mereka nanti
memperjuangkan nasib konkret rakyat?
Orang-orang
yang asal dicomot itu, selain tidak berkeringat tentunya sangat meragukan. Oleh karenanya,
parpol yang bersangkutan harus mampu menunjukkan dirinya dapat menggembleng
orang-orang dari luar kadernya agar mampu dan mau memperjuangkan nasib rakyat
begitu terpilih nanti.
Realitas yang ada, para artis yang sudah
terpilih menjadi anggota legislatif saat ini,
tidak tampak (kalau tidak ingin disebut tidak
ada) memberi kontribusi yang signifikan. Selain hanya menjual paras dan kepopuleran.
Jadi jangan heran, eksistensi
mereka di lembaga legislatif sering dipandang sebelah mata. Bahkan mereka justru lebih banyak
memanfaatkan statusnya sebagai wakil rakyat untuk kepentingan pribadi.
Karena
itu kita sepakat dan tentu berharap, anggota legislatif yang
terpilih nanti tidak malah menjadi beban. Tapi bisa memberi solusi bagi
masalah-masalah yang dihadapi rakyat saat ini, terutama soal kemiskinan.
Sebab lembaga legislatif, bukan tempat untuk sekadar mencari nafkah. Lembaga legislatif merupakan tempat bagi orang-orang yang ingin sepenuhnya mengabdikan diri bagi kepentingan rakyat dan kian majunya bangsa ini. (yebe/aktivis media)
