Agak sulit
membayangkan demokrasi tanpa kehadiran partai politik. Sebab dalam tataran
teori politik, belum ada alternatif yang pas untuk meramu representasi politik
selain dengan campur tangan parpol.
Oleh karena itu, anak
muda yang secara politik berpreferensi kepada demokrasi, jika ingin secara
nyata mengabdi untuk memperbaikinya, jalur parpol lah salah satu opsinya.
‘Tantangan’ keikutsertaan anak muda yang disampaikan Ketua Taruna
Merah Putih (TMP) Kalsel, M Syarifuddin, dalam dialog publik yang bertajuk:
“Millenial Political Movement, A Solution Or Not”, Sabtu (2/3) sore, tentunya
bagian dari kegundahan akan minimnya peran anak muda di panggung politik.
Padahal
mekanisme politik di dalam partai, bisa dipengaruhi dengan cara ikut terlibat di
dalamnya. Sehingga wajah partai yang bopeng-bopeng, bisa diperbaiki demi
kelangsungan demokrasi ke depan.
Sejarah mencatat, anak
muda memiliki andil besar dalam restorasi negeri ini. Sukarno yang kala itu
masih sangat muda, menjadi semakin berbahaya setelah mendirikan Partai Nasional
Indonesia dan Partindo.
Begitupun dengan Bung
Hatta, menjadi semakin menggigit di era menjelang kemerdekaan. Selain penanya yang
tajam di media-media, juga karena mendirikan Pendidikan Nasional Indonesia
(PNI).
Tidakkah kita
merindukan sosok-sosok muda ikut berjuang bersama partai. Ikut mempengaruhi
sikap-sikap partai, kemudian berbuat sesuatu yang besar untuk Indonesia. Untuk masa
depan generasi-generasi selanjutnya?
Tak salah rasanya
harapan ini, jika dibenturkan dengan tesis awal tadi. Mustahil rasanya
berdemokrasi tanpa partai politik!
Gelora perubahan
Dengan semangat baru,
energi yang jauh lebih kuat, serta spirit yang berkobar-kobar, partai akan
mendapat darah baru untuk menjalankan fungsi-fungsinya.
Partai akan semakin energik
dalam menopang demokrasi. Mengagregasi dan mengalirkan aspirasi publik ke forum
pengambil kebijakan.
Bahkan anak muda di
dalam partai akan menjadi warning bagi generasi-generasi di
atasnya, untuk terus beradaptasi dengan zaman. Untuk terus mengingat, kekuasaan
yang berlebihan tidak baik bagi demokrasi.
Ikut berjuang di partai
politik adalah ikut beraksi. Ikut ambil bagian dan ikut menentukan sikap di
dalam gelora perubahan. Tentunya dengan cara-cara yang sesuai.
Boleh jadi pada
awalnya mendapat banyak tantangan. Tapi itulah bagian dari perjuangan. Bung
Karno, Bung Hatta, Syahrir, dan banyak lagi, berani membayarnya dengan penjara.
Jika konsistensi untuk
melakukan perubahan memang teruji, maka
hasilnya lambat laun akan terlihat. Fakta historisnya, waktu terus berputar,
generasi terus berganti, dan waktu itu akan datang.
Ketika generasi lama
dan baru bisa berkomunikasi dengan baik di dalam partai-partai untuk
mempersiapkan estafet-estafet kepemimpinan politik nasional, di saat itulah
perubahan tak perlu memakan banyak korban. (yebe/aktivis media)
