Dari
beberapa kali kampanye terbuka di sejumlah daerah, Jokowi selalu mengingatkan masalah hoax yang begitu
gencar di tahun politik menjelang Pemilu 2019. Resahnya calon presiden nomor
urut 01 ini, karena berpontesi memecah belah keutuhan bangsa.
Lalu
apa sebenarnya yang dimaksud hoax?. Kapan
istilah itu muncul? Mengapa hoax digandrungi?
Bagaimana motif dan modus penyebarannya.
Berasal
dari bahasa Inggris yang berarti tipuan atau berita bohong. Tujuannya untuk
membuat opini publik atau menggiring opini, hingga terbentuk persepsi.
Secara
historis, kata hoax muncul jauh sebelum
internet hadir, yakni sejak abad ke-18. Di Amerika, muncul pertama kali dan
lazim dipakai pengguna internet (netter)-nya,
mengacu pada sebuah film drama yang disutradarai Lasse Hasilton, 2006, berjudu The Hoax.
Sedang
di era digitalisasi seperti sekarang ini, hoax merupakan
ekses negatif dari kebebasan berbicara dan berpendapat di internet, khususnya
di media sosial serta blog.
Dalam
konteks Indonesia, keranjingan terhadap berita hoax dipengaruhi rendahnya tingkat pendidikan
dan kesenangan masyarakat bergosip sebagai dampak minimnya minat baca.
Hasil riset The World’s Most Literate Nation, April 2017, menunjukkan,
1.000 orang Indonesia hanya 1 orang yang membaca buku 1 buku per tahun.
Akibatnya, Indonesia ditempatkan di posisi ke-60 dari 61
negara yang disurvei. Setingkat lebih tinggi dari Botswana, negara kecil di Benua
Afrika yang hanya berpenduduk 2,1 juta jiwa.
Tingkat literasi Indonesia yang berada di urutan ke-60, diumumkan
UNESCO di Hari Aksara Internasional, 8 September 2017 lalu.
Meski dengan kondisi literasi demikian, tingkat kecerewetan
orang Indonesia di media sosial, menempati posisi teratas. Amerika sebagai
negara dengan jumlah pengguna twitter terbanyak di dunia, kalah dalam hal
cuitan dengan orang Indonesia.
Buktinya, twit orang Indonesia dalam setahun, berjumlah
4,1 miliar. Menurut CEO Twitter, dengan jumlah itu Indonesia menjadi pengguna
teraktif dan termasif di dunia dalam hal berkicau via twitter. Bahkan
jika cuitan via twitter digabung dengan rilisan status di facebook dan instagram,
Indonesia jawara se jagat.
Kegandrungan demikian, membuat peredaran hoax semakin masif dan menimbulkan dampak negatif yang luas dalam kehidupan berbangsa dan bernegara, karena substansinya sudah ke berbagai aspek.
Akibat penyebarannya yang masif, berpotensi menghancurkan tatanam kehidupan dan kerukunan dalam bermasyarakat. Misalnya, menjelek-jelekkan organisasi, perusahaan, orang, suku atau memanipulasi ajaran agama. Ya, seperti kondisi kita sekarang ini. (yebe/aktivis media)
