Kampanye terbuka capres 01, Jokowi di Stadion 17 Mei
Banjarmasin, Rabu (27/3) sore, masih menyisakan tanya jika mengaitkanya dengan
lontaran Inul Daratista: “Masa depan Indonesia di tangan yang tepat”
Ada apa dengan ucapan Ratu Ngebor dihadapan massa sang
petahana itu. Pertama, Inul hanyalah seorang warga biasa yang kebetulan
terkenal karena menekuni profesi sebagai penyanyi dangdut.
Kedua, Inul selama ini tak pernah memiliki keterikatan dengan
satu parpol pun, apalagi sampai terlibat dalam politik. Jika selama ini dia
tampil di atas panggung kampanye, itu karena jasanya dipakai sebatas untuk
menghibur.
Lalu apa kaitannya dengan ucapan sang penyanyi asal Jawa
Timur itu? Entah disadari atau tidak, Inul telah mengungkapkan logikanya.
Meski demikian, kalau ada pihak-pihak yang ingin mengganti
presiden, ya sah-sah saja. Karena memang waktu berakhirnya masa jabatan presiden
dan wakil presiden di 2019 ini. makanya dilakukan pemilihan 17 April mendatang.
Bahkan tidak ada siapapun yang bisa mengusik hak itu. Biarkanlah
setiap orang menyatakan kesenangan atau ketidaksenangan masing-masing.
Singkatnya, Jokowi itu presiden yang bisa diganti. Namun pertanyaannya,
siapa yang pantas mengganti? Prabowo bagi sebagian orang, sosok yang tepat untuk
membangun Indonesia.
Konon di tangan Prabowo, Indonesia akan tumbuh menjadi macan
Asia. Namun pertanyaanya lagi, apa prestasinya? Apa yang pernah dilakukan
Prabowo setelah diberhentikan dari dinas militer? Khususnya lagi, apa yang dilakukannya
sebagai pemimpin oposisi selama 10 tahun?
Disinilah sedikiit celah terbuka akan makna lontaran Inul
Daratista dengan ketidakpahaman. Meski ada jawaban, Prabowo tidak bisa
dibandingkan dengan Jokowi. Dia bukan penguasa eksekutif yang memegang anggaran.
Memang tidak!
Namun perlu diingat, Prabowo adalah pemimpin oposisi. Pertanyaannya
pun, sudahkah ia menjalankan tugas oposisi dengan baik?
Padahal sistem di negara ini sudah tersedia. Check and balances (sistem pengawasan dan keseimbangan). Seperti juga pihak yang berkuasa, oposisi punya kesempatan untuk menentukan arah kerja pemerintah. Bahkan mereka ikut terlibat dalam pembahasan APBN.
Oposisi juga berperan merumuskan UU yang mengatur kerja
pemerintah. Meski tidak melakukan eksekusi, oposisi bisa sangat berperan
menentukan arah pembangunan dan arah peradaban bangsa.
Selama hampir lima tahun ini, apa peran oposisi yang dipimpin
Prabowo. Pernahkah mereka menekan pemerintah untuk mengubah APBN sehingga
menjadi lebih baik?
Pernahkah mereka membuat regulasi yang lebih baik? Adakah
kebijakan pemerintah yang berhasil digagalkan karena tidak pro rakyat?
Nah, disinilah masalahnya. Pusat pikiran selama ini hanya ada
pada sosok presiden. Dianggap bisa melakukan segalanya. Sebaliknya yang bukan
presiden, dianggap tidak bisa berbuat apa-apa.
Prabowo tidak pernah memainkan peran memadai sebagai pemimpin
oposisi. Perannya yang paling nampak, hanya ingin jadi presiden.
Lalu atas dasar apa mengatakan Prabowo akan jadi presiden
yang lebih baik dari Jokowi? Apa logikanya seperti ini. “Jokowi gagal,
maka Prabowo akan jadi presiden yang lebih baik.” Tidak nyambung bukan? Jokowi
gagal, tapi apa yang membuat yakin Prabowo lebih baik?
Jawabannya tidak ada pada Jokowi. Tapi harus dicari dari
sosok Prabowo. Sebagai pemimpin oposisi Prabowo pun juga tidak menunjukkan
kinerja yang baik. Lalu atas dasar apa bisa berharap Prabowo akan jadi presiden
yang lebih baik?
Jadi jangan sampai semangatnya hanya: “pokoknya ganti
presiden”. Jangan sampai semangatnya: “asal bukan Jokowi”. Kalau
asal bukan Jokowi, apa kata dunia dengan negara besar ini!. (yebe/aktivis media)
