MARTAPURA, banuapost.co.id– Nyaris tanpa publikasi, salah seorang pelajar putri SMAN 1 Simpang Empat, Kabupaten Banjar, terpilih mengikuti seleksi Pasukan Pengibar Bendera Pusaka (Paskibraka) Nasional di Jakarta, setelah menyisihkan pelajar se Kalsel.
Pelajar putri itu, Gusti Putri Dayana Sifa Dalpa, dilepas
keberangkatannya mengikuti karantina Paskibraka selama satu bulan di Jakarta,
sebelum pengibaran bendera Pusaka di halaman Istana Merdeka, 17 Agustus
mendatang.
Anak pertama dari tiga bersaudara pasangan Gusti Heran Indra Pangeran Jaya dan Dahliana ini, dilepas langsung Kepala SMAN 1 Simpang Empat dalam sebuah upacara sederhana di halaman sekolah tersebut, Senin (22/7).
Pasukan
Paskibraka merupakan kumpulan putra putri pelajar tingkat SMA sederajat kelas 1
dan 2 seluruh nusantara yang memiliki prestasi di sekolahnya masing-masing.
Selama waktu seleksi sampai 16 Agustus, seorang anggota
calon Paskibraka dinamakan Capaska atau Calon Paskibraka. Pada waktu penugasan
17 Agustus, anggotanya dinamakan Paskibraka. Setelah 17 Agustus, dinamakan Purna
Paskibraka.
Paskibraka Nasional bertugas di Istana Merdeka, Paskibraka provinsi bertugas di pusat pemerintahan provinsi. Sedang Paskibraka Kota, bertugas di pusat pemerintahan walikota/kabupaten.
Gagasan
Mayor
Gagasan Paskibraka lahir pada 1946, saat ibukota Indonesia
dipindahkan ke Yogyakarta. Memperingati HUT Proklamasi Kemerdekaan RI yang
ke-1, Presiden Soekarno memerintahkan salah satu ajudannya, Mayor (Laut) Husin
Mutahar, untuk menyiapkan pengibaran bendera pusaka di halaman Istana Gedung
Agung Yogyakarta.
Pada saat itulah di benak Mutahar terlintas suatu gagasan, sebaiknya
pengibaran bendera pusaka dilakukan para pemuda dari seluruh penjuru Tanah Air,
karena mereka adalah generasi penerus perjuangan bangsa.
Tetapi karena gagasan itu tidak mungkin terlaksana, maka Mutahar
hanya bisa menghadirkan lima orang pemuda (3 putra dan 2 putri) yang berasal
dari berbagai daerah dan kebetulan sedang berada di Yogyakarta.
Lima orang tersebut melambangkan Pancasila. Sejak itu sampai
tahun 1949, pengibaran bendera di Yogyakarta tetap dilaksanakan dengan cara
yang sama.
Ketika Ibukota dikembalikan ke Jakarta, 1950, Mutahar tidak lagi
menangani pengibaran bendera pusaka. Pengibaran bendera pusaka pada setiap 17
Agustus di Istana Merdeka, dilaksanakan Rumah Tangga Kepresidenan sampai 1966.
Selama periode itu, para pengibar bendera diambil dari para
pelajar dan mahasiswa yang ada di Jakarta.
Tahun 1967, Husin Mutahar dipanggil presiden saat itu,
Soeharto, untuk menangani lagi masalah pengibaran bendera pusaka.
Dengan ide dasar dari pelaksanaan 1946 di Yogyakarta, dia
kemudian mengembangkan lagi formasi pengibaran menjadi 3 kelompok yang dinamai
sesuai jumlah anggotanya, yaitu: pasukan 17 pengiring (pemandu), pasukan 8 pembawa
bendera (inti), dan pasukan 45 atau pengawal. Jumlah tersebut merupakan simbol
dari tanggal Proklamasi Kemerdekaan RI, 17 Agustus 1945 (17-8-45). (yb/b2n/foto: ist)
