SAMPIT, banuapost.co.id– Tak hanya was-was dengan kemarau panjang menimpa, warga desa di Kecamatan Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kotim, Kalteng, yang berada di pesisir pantai mulai kekurangan air bersih.
Soal air bersih ini akibat masuknya air laut di bantaran
sungai mereka. Karena musim kemarau yang panjang, akhirnya stok air di
penampungan mulai habis.
Mereka yang mampu, tinggal merogoh kocek untuk membeli
air bersih. Namun bagi mereka yang serba kekurangan, tak sedikit memanfaatkan air yang tersisa di parit anak sungai.
“Ketersediaan air bersih di tandon untuk beberapa
keluarga, sudah menipis. Paling tiga hari sudah habis,” ujar Sidik, warga
RT Vl, Desa Sei Ijum Raya, Rabu (21/8).
Begitu juga dengan Sawiyah, warga lainnya yang tinggal di
kampung Sijura. Kekurangan air bersih sangat mengkhawatirkan, karena tandon tempat
penampungan air bersih yang digunakan beberapa rumah tangga di desanya, sudah
pada habis.
“Kami memerlukan sekali air bersih. Mau beli tak ada
orang yang jual sampai kesini. Kalau ada pembagian pemerintah daerah, hendaknya
kesini dulu,” harap Nenek Sawiyah.
Supian Hadi, Kasi Pelayanan dan Kesejahteraan Desa Handil
Sohor, juga tak menampik kalau warganya kekurangan air bersih akibat musim
kemarau panjang.
“Harga per drum Rp 35 ribu. Kalau beli air sampai 2
tong profil isi 1100 liter, harganya Rp 150 ribu per tong,” ujar Supian.
Tak jauh berbeda dengan Supian Hadi, Wakil Ketua Badan
Permusyawaratan Desa (BPD), Handil Sohor, Sarkawi, juga merasakan hal sama.
“Bagi mereka yang tak punya uang, hanya menimba air di anak
sungai desa,” katanya.
Sementara Sekdes Desa Handil Sohor, Azis Muslim,
membenarkan kalau permintaan dan pendataan yang diminta sudah diserahkan ke pihak
kecamatan.
“Kami kira laporan langsung dapat distribusi airnya.
Karena warga sudah kesulitan air bersih,” jelasnya.
Terpisah, Camat Mentaya Hilir Selatan (MHS), Drs Syahrial,
ketika diminta konfirmasinya, mengaku sudah meminta data, jumlah kebutuhan per
kepala keluarga dan berapa keperluan air per liternya di setiap desa.
“Semua desa sudah kita data titik-titik wilayah
keperluannya. Data sudah kita serahkan
ke bagian Setda Kotim,” imbuhnya.
Menurut Syahrial, selama ini belum ada desa yang meminta
keperluan akan air bersih. Sementara pihak kecamatan, masih menunggu laporan
pengajuan permintaan masing-masing desa untuk penyaluran air tersebut.
“Selama ini belum ada pemerintahan desa yang meminta
pendistribusian air bersih. Kalau ada, kita segera melaporkannya ke pihak kabupaten,”
tandas Syahrial. ( urd/foto: ist)
