“Sesungguhnya
Aku telah memberikan kepadamu nikmat yang banyak.
Maka dirikanlah salat karena Tuhanmu, dan berqurbanlah. Sesungguhnya orang‑orang yang
membenci kamu, dialah
yang terputus dari nikmat Allah”
(Al Qur’an, Surat Al Kautsar, ayat1‑3).
Sebagaimana firman tersebut, ajakan
berqurban,
baik itu jenis kambing, domba atau sapi, semata-mata untuk mencapai
derajat ketakwaan di sisi Allah
SWT. Kini menggema
kembali pada peringatan Idul Adha 1440
H,
Minggu (11/8).
Sebuah
ritual religius, khususnya menjelang Idul Adha, gema takbir pun terdengar menyebut dan memuji
nama Ilahi. Semoga kondisi ini membuat
insan, khususnya umat Muslim, merenung dan senantiasa diingatkan pada hakekat berqurban.
Idul Adha atau lazim disebut sebagai Hari Raya Haji, merupakan perayaan yang dilakukan umat Islam, termasuk umat Islam se dunia yang saat ini sedang menunaikan ibadah haji di tanah suci Mekkah, sebagai tekad untuk kembali kepada semangat berqurban.
Dalam sejarah peradaban umat manusia, sebagaimana terkandung dalam Al Qur’an, kegiatan berqurban direpresentasikan pertama kali oleh Nabi Ibrahim AS. Ketika diuji oleh Allah SWT keimanannya untuk mengurbankan anak kesayangannya, Ismail , dengan cara disembelih.
Nabi Ibrahim rela melakukannya demi ketakwaan kepada Allah SWT. Atas ketakwaannya itu, Allah kemudian memberikan kambing sebagai pengganti Ismail.
Dalam kehidupan kekinian, hikmah yang dapat dipetik dari peringatan
Idul Adha bukan pada berapa banyaknya hewan qurban yang disembelih.
Tetapi pada kerelaan untuk berkorban guna mencapai tingkat ketakwaan atau
tidak.
Semua bentuk dan jenis pengorbanan, baik harta, waktu, ilmu, atau
lainnya, bernilai luhur jika semua dilakukan dengan
ketulusan, dan demi
ketakwaan kepada Allah SWT.
Dengan demikian, berkorban di jalan Allah adalah memberikan sesuatu yang sebenarnya kita butuhkan untuk digunakan di jalan Allah. Bukan memberikan sesuatu yang memang sudah tidak kita perlukan lagi, atau mengorbankan sesuatu yang bersifat sisa.
Indonesia saat ini tengah dilanda krisis. Sebenarnya bukan semata krisis ekonomi, apalagi krisis politik. Melainkan krisis yang sesungguhnya, yakni krisis moral atau krisis akhlak. Krisis akhlak itu sendiri, berawal dari krisis iman atau krisis aqidah.
Ada dua sebab penting mengapa seseorang tidak mau berkorban. Pertama, dia masih terlalu cinta pada dunia. Sehingga kecintaannya kepada diri, anak, istri, suami, dan harta, sama dengan kecintaannya kepada Allah. Bahkan, melebihi dari kecintaannya kepada Allah.
Padahal bagi seorang Mu’min sejati, tidak boleh kecintaannya kepada yang lain menyamakan kecintaannya kepada Allah. Apalagi kalau melebihinya.
Sebab kedua, karena mereka memiliki rasa takut yang mendominasi jiwa. Sehingga takutnya lebih besar daripada beraninya. Orang seperti ini adalah orang yang takut mati, takut kehilangan popularitas, takut miskin, takut kehilangan jabatan dan ketakutan‑ketakutan lainnya.
Padahal bagi orang yang betul‑betul beriman, dia tidak akan didominasi oleh rasa takut. Bahkan seandainya resiko betul‑betul menimpa dirinya, maka dia tidak akan berduka cita. Tidak akan menyesal atas hal‑hal tidak menyenangkan yang menimpa.
Sementara dalam pandangan cendekiawan, pengorbanan yang
dilakukan seorang mu’min sesungguhnya merupakan mentari jiwa dalam menapaki
kehidupannya menuju alam kehidupan sejati (kekal).
Karena itu diharapkan dengan motivasi berkorban, jiwa kita akan semakin bersih, suci. Sehingga dapat berpaut dengan nuur cahaya Ilahi. Dengan jiwa bersih dan suci, seorang muslim akan dengan entengnya menapaki sisa‑sisa perjalanannya menuju Khaliqnya.
Kesadaran jiwa berkorban, saat ini menjadi tuntutan yang begitu mendesak akibat krisis berkepanjangan yang terjadi. Sehingga telah meninggalkan permasalahan‑permasalahan sosial yang cukup parah.
Pengangguran yang nota bene hampir semuanya adalah muslim, kini jumlahnya mencapai puluhan juta orang. Anak‑anak remaja yang tercampakkan ke dalam jurang narkoba, prostitusi dan berbagai masalah lainnya, telah mengancam masa depan generasi umat ini.
Semua ini adalah realita‑realita kehidupan yang membutuhkan sinar mentari yang terpantul dalam nurani setiap mu’min. (yebe/aktivis media)
