74 tahun kemerdekaan telah
dinikmati, namun bagi warga desa bisa jadi masih jauh
dari jiwa kemerdekaan itu sendiri. Ada banyak penjelasan tentang makna
kemerdekaan bagi sebuah bangsa.
Taufik Ismail, salah seorang penyair dan sastrawan Indonesia, mencoba
membawa kita mendekatkan diri kepada orang-orang di desa. Ia menggambarkan desa di abad sekarang sama buruknya dengan hidup
orang desa di abad sebelumnya.
Dalam puisi paling pendek, bahkan
bisa menjadi paling pendek di dunia, berjulul: Merdeka (1998),
Taufik Ismail menulis:
Merdeka! /
Belum /
Lima tahun setelah puisinya itu, pria kelahiran Kota Bukittinggi,
Sumatera Barat, 23 Juni 1923, kembali mempertegas tema
merdeka melalui
puisi berjudul:
“Aku Malu Menatap Wajah Saudaraku Petani” (2003).
Begitupun di kekinian, setelah 16
tahun, puisi Taufik Ismail wajar menjadi ajang pencerahan
bersama di tengah kesibukan seremonial HUT Kemerdekaan
ke-74 tahun ini.
Puisi itu menyimpan 1001 rahasia kehidupan
orang desa yang tak terjamah. Karena lebih separuh
dari warga kita, orang
desa. Tetapi apakah mereka sungguh
‘merdeka’?
Banyak krisis yang pernah mengutuk bangsa
ini, seperti iklim, politik, hukum, BBM,
pangan, dan korupsi politisi pun merajalela. Orang
desalah yang selalu jadi ‘korban’-nya.
74
tahun bangsa ini merdeka, tetapi
anehnya orang desa belum bisa
menentukan harga jualan atas beras, kacang-kacangan, sayur-mayur, ikan, ayam kampung, bebek dan kambing yang mereka panen
dari desa mereka sendiri.
Akibatnya, sebagian
orang desa coba-coba mengais hidup di kota.
Namun kehadiran mereka,
dipandang mengotori kota. Terutama
yang tiduran di emperan toko, atau di bawah
kolong jembatan.
Memang orang desa tempatnya di desa. Tapi orang kota tidak
bertanya kenapa orang desa mulai mengembara ke kota?
Sadarkah orang kota akan pipa
jumbo langsung menyedot mata air orang desa. Kayu-kayu bangunan dari
rumah jabatan presiden, gubernur, walikota, bupati
sampai kantor pak lurah, juga ditebang dari hutan orang desa. Tapi orang
desanya tinggal di gubuk,
reot pula.
Mungkin inilah fenomena yang disebut Mao Zedong sebagai ‘Kota Mengepung Desa’ (1923). Semuanya ‘dijarah’ dari desa. Tapi
warga desa ditinggali tanpa akses yang seimbang dan manusiawi.
Lantas dengan apa negara-bangsa ini dapat memerdekaan
warga desanya? Dengan subsidi BBM, pupuk gratis, obat hama gratis, alat tangkap
murah bagi nelayan, sebanyak mungkin bikin irigasi dan mesin penyedot air,
jaringan listrik, sekolah, puskesmas dan klinik, sandang-pangan tercukupi,
transportasi terjangkau.
Sayangnya, upaya untuk memenuhi kebutuhan
pembangunan di desa, sering
kali jadi proyek yang tak jarang
terkena ‘hama’ korupsi. Aksi sunat-menyunat anggaran,
mulai dari kepala desa hingga anggota dewan, bahkan
sampai ke jajaran kementerian.
Ketika desa menjadi kampung mati, maka negeri
ini sebesar apapun ia, tidak lama lagi akan berada di tebing kehancuran. Karena itu, bangsa ini harus
dimerdekakan mulai dari desa.
Harapan
ini mudah-mudahan ditangkap para
politisi untuk menggagas sesuatu yang baik bagi warga desa. Bukan dengan kencangnya urat leher, berjanji
di panggung kampanye. Tetapi
aksi nyata sekarang juga. Semoga. (yebe/aktivis media)
