BUSAN, banuapost.co.id– Di ibu kota baru, Presiden Joko Widodo ingin dirancang sebuah cluster besar untuk riset dan inovasi, serta cluster pendidikan yang memuat universitas-universitas kelas dunia.
“Saya enggak tahu nanti perisetnya ada berapa puluh ribu.
Tapi saya ingin gede banget. Karena memang sudah kita siapkan lahan di ibu kota
yang baru dan kita ingin kalau sudah masuk ke sana artinya memang harus
dibelokkan. Yang dulu anggarannya banyak ke infrastruktur akan mulai digeser
masuk ke riset dan inovasi,” ucap presiden.
Kepala Negara mengungkapkan keinginan itu dalam pertemuan
dengan para ilmuwan dan peneliti Indonesia yang berada di Korea Selatan, di
Hotel Lotte, Busan, Senin (25/11).
Menurut presiden, pemerintah tengah berfokus untuk
menyelesaikan satu per satu pekerjaan besar di Indonesia.
Setelah berfokus pada pembangunan infrastruktur pada lima
tahun ke belakang, kini pemerintah berfokus pada pembangunan sumber daya
manusia pada lima tahun berikutnya.
Diharapkan setelah pembangunan SDM, pemerintah akan mulai
berfokus pada pengembangan riset dan inovasi secara besar-besaran.
Berkaitan dengan riset dan inovasi, presiden menjelaskan,
Indonesia mulai bertransformasi. Dalam
bidang energi misalnya, penggunaan B20 yang sebentar lagi menjadi B30, telah
berhasil mengurangi impor bahan bakar.
Selain itu, juga ingin agar Indonesia tidak lagi mengekspor
komoditas dalam bentuk bahan mentah. Tapi diubah jadi barang-barang jadi atau
setengah jadi.
“Itu strategi bisnis negara. Jadi ada added value, ada
nilai tambah yang bermanfaat bagi rakyat. Dan kita harus optimis, itu bisa kita
kerjakan dengan baik,” katanya.
Pertemuan dengan para peneliti dan ilmuwan muda ini, diakui
presiden mendorong semangat untuk meyakini apa yang diprediksi sejumlah lembaga
internasional akan terwujud, yakni Indonesia emas 2045.
Pada saat itu, menurut presiden, Indonesia disebut akan
menjadi empat besar kekuatan ekonomi dunia dengan pendapatan per kapita
mencapai USD 23.000-29.000 per tahun.
“Kalau sekarang UMK kita baru Rp2-3 juta, nantinya
sudah berada pada Rp 27 juta per bulan,” ucapnya.
Ditegaskan presiden, lompatan akan terjadi kalau pekerjaan-pekerjaan besar dilalui dengan
tahapan-tahapan yang benar. Tanpa terganggu turbulensi politik.
“Kalau stabilitas politik dan keamanan itu ada seperti
ini terus, Insya Allah hitung-hitungan itu tidak akan meleset,” ujarnya.
Turut mendampingi presiden dalam pertemuan, Menteri Koordinator bidang Perekonomian, Airlangga Hartarto, Menteri Koordinator bidang Kemaritiman dan Investasi, Luhut Binsar Panjaitan, Menlu Retno Marsudi, Menteri Sekretaris Negara, Pratikno, Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, dan Duta Besar RI untuk Korea Selatan, Umar Hadi. (yb/din/foto: setneg)
