BANJARMASIN, banuapost.co.id– Dampak pandemi Covid-19 hingga membuat dunia belajar dan mengajar tak lagi saling bertatap muka, menjadi kendala baru termasuk kaum intelektual di perguruan tinggi.
Bahkan kuliah dengan sistem daring ini, dampak positifnya tak sebanding dengan negafifnya. Selain harus merogoh kocek lebih dalam lagi, pembahasan dari sang pengajar pun sulit ditangkap. Karena tidak adanya penjelasan detail.
” Terkadang hal yang dijelaskan dan kita pahami, tidak sinkron. Bahkan untuk bertanya pun sulit, karena banyaknya peserta dalam perkuliahan dengan sistem teknologi ini. Sehingga seperti tumpang tindih antara mahasiswa,” ujar Sawupi, kemarin.
Selain itu, lanjut mahasiswa semester dua jurusan Ilmu Komunikasi Univeristas Islam Kalimantan (Uniska) itu, banyak beban yang ditanggung. Selain kuota, juga harus membayar uang SPP.
“Nah kalau yang kena PHK seperti saya ini. Aspek SPP salah satunya sebagai alasan kenapa kuliah online menjadi beban,” tandasnya.
Selain SPP dan kuota, Sawupi berharap agar dosen juga lebih aktif dan bertanggung jawab dalam memberikan materi perkuliahan
“Dosen harus memberikan informasi yang jelas, jangan sampai miskomunikasi. Terkadang dosen tiba-tiba membatalkan jadwal, padahal mahasiswa sudah siap. Bahkan ada juga mahasiswanya yang belum siap,” katanya.
Khusus untuk dosen, Sawupi berharap lebih aktif dan bertanggung jawab dalam memberikan materi. Karena tidak semua mahasiswa memahami apa yang dijelaskan dengan waktu yang terbatas tersebut.
“Kurang aktifnya dosen dalam perkuliahan daring, tak jarang hanya memberikan tugas. Sementara tanggung jawabnya, ditinggalkan,” pungkasnya. (gop/foto: ist)