BOGOR, banuapost.co.id– Lembaga Biologi Molekuler Eijkman telah memulai upaya pengembangan vaksin Merah Putih dengan menggunakan isolat virus yang beredar di Indonesia.
Secara keseluruhan, vaksin Merah Putih telah berproses mencapai 50 persen, dengan target uji kepada hewan akhir tahun ini.
Selanjutnya sekitar awal tahun, tim menargetkan bibit vaksin sudah dapat diserahkan ke Bio Farma untuk dilakukan formulasi dan produksi dalam rangka uji klinis dari tahap satu hingga tiga.
“Setelah uji klinis selesai dan BPOM menyatakan vaksin aman untuk digunakan dan cocok untuk menjaga daya tahan tubuh terhadap Covid-19, maka akan dilakukan produksi dalam jumlah massal oleh PT Bio Farma,” jelas Menteri Riset dan Teknologi (Menristek), Bambang Brodjonegoro.
Menristek mengemukakan hal itu usai dipanggil Persiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan Bogor, Jawa Barat, Rabu (9/9).
Perkiraannya, lanjut Bambang, di triwulan keempat 2021 sudah bisa diproduksi dalam jumlah besar dan nantinya akan melengkapi vaksin Covid-19 yang awalnya akan didatangkan dari kerja sama dengan pihak luar.
Meurut menristek, tim pengembangan vaksin Merah Putih nantinya juga akan mengajak beberapa perusahaan farmasi swasta, untuk ikut memproduksi vaksin Covid-19.
Ini mengingat pemerintah memerlukan vaksin Covid-19 dalam jumlah besar untuk seluruh masyarakat. Sehingga membutuhkan kapasitas produksi yang besar pula yang dapat dipenuhi kerja sama pemerintah dengan perusahaan-perusahaan farmasi swasta.
“Karena itulah kami mengajak Bio Farma untuk melakukan ekspansi dan perusahaan-perusahaan swasta lain untuk ikut mendukung,” tandasnya.
Bambang tak menampik presiden meminta agar bekerja dengan cepat. Tetapi tetap mengikuti segala prosedur, karena vaksin harus aman, tidak ada efek samping yang membahayakan, dan diharapkan berkhasiat untuk memperkuat daya tahan tubuh menghadapi virus Covid-19 yang tidak tahu akan berapa lama berada di dunia ini. (yb/din/foto: lukas)