BALANGAN, banuapost.co.id– Kain khas tradisional masyarakat Banjar, Sasirangan, sudah digunakan sejak dulu kala. Untuk melestarikannya, berbagai upaya terobosan, termasuk berinovasi dalam proses pembuatan warna dengan bahan alami yang mudah didapat di alam, dilakukan.
Seperti dilakukan para pemuda dan remaja Karang Taruna Desa Teluk Karya, Kecamatan Lampihong, Kabupaten Balangan. Kreatifitas ini, tak lepas dari Program Revitalisasi Ekonomi Masyarakat di Sekitar Lahan Gambut dari Badan Restorasi Gambut (BRG).
Setelah mengikuti sejumlah pelatihan, kini mereka mulai memproduksi sasirangan dengan bahan pewarna alami. “Produksi masih terbatas sesuai pesanan. Tapi lumayanlah, kami sekarang punya kegiatan, bisa mengurangi minta uang sama orang tua,” kata Sekretaris Aneka Sasirangan Karang Taruna Desa Teluk Karya, Laila Hayati, Jumat (16/10).
Untuk bahan pewarna alami, menurut Laila, banyak dapat secara gratis di sekitar desa tersebut. Seperti daun ketapang dan akar mengkudu. “Namun kalau serbuk ulin, kami harus beli. Karena di sini tidak ada,” ujar Laila.
Selain sasirangan berbahan pewarna alami, mereka juga membuat kerajinan tangan lainnya. Seperti sumpit dari bambu dan anyaman dari daun purun, serta sirup dan selain dari daun rosela.
Fasilitator Desa, Muhammad Ikhsan Nugraha, mengatakan, keduanya di Desa ini akan dibentuk Forum Komunikasi Petani Lahan Gambut yang juga bagian dari revitalisasi ekonomi. Forum itu nantinya beranggotakan pemilik lahan gambut, petani penggarap dan pemilik modal.
“Melalui forum ini, nanti akan ditentukan tanaman apa yang cocok untuk dibudidayakan di lahan gambut,” kata Ikhsan.
Dari banyak tanaman yang direncanakan, salah satunya pengembangan tanaman purun. Karena daunnya sangat bermanfaat dan dibutuhkan untuk bahan kerajinan tangan.
Diakuinya, saat ini banyak daun purun yang tumbuh di lahan gambut di desa itu dan sekitarnya. Tapi masyarakat masih belum begitu memahami cara memilah daun purun yang baik untuk dijadikan bahan kerajinan.
“Kami masih perlu belajar untuk memilih daun purun untuk dijadikan bahan lerajinan,” ujar Ikhsan.
Hasil pemetaan BRG, Desa Teluk Karya seluas 515 hektare, memiliki lahan gambut sekitar 111 hektare. Namun saat ini, baru sekitar 35 hektare yang dimanfaatkan masyarakat setempat.
Upaya memanfaatkan lahan gambut ini, selain melestarikannya dan mencegah terbakar di musim kemarau, juga untuk meningkatkan nilai tambah masyarakat sekitar. (emy/foto: deny yunus)