BANJARMASIN, banuapost.co.id– Program atasi banjir dengan normalisasi sungai yang digagas Pemko Banjarmasin, meski mendapat dukungan namun mulai jadi sorotan. Khususnya akan rasa keadilan pemilik jembatan atau bangunan yang dibongkar.
Bahkan LBH Banjarmasin, Lawyer Forum dan Pena 98, mendukung ‘kekecewaan’ pemilik jembatan atau bangunan demi keadilan dan equality before the law for all.
Seperti yang disampaikan Kakimal BSN Kapten Laut (P) A Ilham Effendi P, melalui pesan WhatApps (WA) ke redaksi banuapost, memberikan dukungan penuh ke pemerintah selama program tersebut untuk mengatasi banjir.
Karena itu untuk memaksimalkan pekerjaan dan hasil yang maksimal, Satgas Normalisasi Sungai diingatkan tidak tebang pilih dalam penegakan hukum.
“Oleh sebab itu kami minta, sepanjang sungai di Jl A Yani agar dilakukan pengukuran ulang. Jika ternyata tidak berkesesuaian, baik ukuran tanah atau dalam hal persyaratan IMB, maka kami minta juga dilakukan pembongkaran,” tulisnya.
Kenapa demikian? Agar tercipta rasa keadilan dan kesetaraan dalam penegakan hukum. Sehingga dapat dirasakan manfaat dan tentunya sasaran keberhasilan yang ingin dicapai Pemko Banjarmasin yang damai dan indah.
Nyaris senada juga disampaikan Ketua Ormas Sangga Lima, Sulaiman, yang mengaku dengan suka rela terpaksa membongkar sendiri tempat parkir armada BPK-nya.
“Kami sangat mendukung selama untuk mengatasi banjir. Namun kalau pembongkaran jembatan atau bangunan ditargetkan tertentu saja, rasa keadilan akan kami kejar hingga kapanpun,” tegas Leman, sapaan akrabnya.
Kegeraman pemilik ormas yang hanya bergerak di bidang sosial, khususnya kebencanaan ini, tentuya sangat beralasan. Pasalnya, Sungai Veteran yang jadi sasaran Satgas Normalisasi Sungai, hanya bagian tertentu saja dilakukan pembongkaran.
“Sementara muara Sungai Veteran-nya, jelas-jelas berdiri bangunan dan jembatan yang mengambil setengah lebar sungai tidak diapa-apakan,” jelas Leman.
Karena itu meski dengan dalih cagar budaya sekalipun, lanjut Leman, tetap harus dibongkar. Logikanya sangat sederhana, selain mana ada sungai muaranya menyempit, juga rasa keadilan.
“Lagian cagar budaya apa? Wong di gedung itu lapangan bulutangkis kok,” ucapnya sinis.
Sementara Rudy, juga warga Jl Veteran, meminta Satgas Normalisasi Sungai bekerja profesional dan tanpa tebang pilih. Karena ada kesan, kerja tim berjalan tanpa konsep.
Contohnya, menurut Rudy, mengenai jembatan yang harus dibuat nantinya bentuk dan desainnya seperti apa. Bahkan satgas sendiri hingga kini belum punya konsep yang jelas tentang jembatan yang harus dibuat nantinya.
Soal desain jembatan, diakui Ketua Tim Satgaslak Normalisasi Sungai, Doyo Purjadi, Pemko Banjarmasin masih belum memilikinya. Namun desainnya akan dibahas dalam rapat dengan instansi terkait.
“Sepertinya bentuk jembatan melengkung. Sehingga tidak menutupi aliran sungai, seperti yang terjadi saat ini,” ujar Doyo. (yb/b2n/foto: ist)