BANJARBARU, banuapost.co.id– Korban meninggal dunia akibat terinfeksi virus corona di Kalsel sepanjang Selasa (27/7), tercatat 20 pasien. Se-hari sebelumnya, Senin (26/7) sebanyak 17 orang. Jumlah ini sekaligus menjadi rekor tertinggi selama pandemi sejak awal Maret tahun lalu. Dengan tambahan jumlah itu, totalnya pun jadi 1.237 orang.
Sementara di hari yang sama ini pula, penambahan kasus baru juga ngegas jika dibandingkan dengan se hari sebelumnya. Jika Senin (26/7) tercatat 195, sekarang 517 kasus. Dengan tambahan itu, total Covid-19 di Kalsel menjadi 44.548 orang. 6.199 pasien di antaranya masih dalam perawatan.
Melansir data Tim Gugus Tugas Percepatan Penanganan (TGTP2) Covid-19 Kalsel, hari ini ada penambahan sebanyak 372 pasien sembuh. Sehingga totalnya jadi 37.112 orang.
Sebaran ke-20 korban meninggal dunia yang dilaporkan 5 kabupaten/kota: (Banjarmasin, Barito Kuala, Hulu Sungai Selatan (HSS), Hulu Sungai Utara (HSU), Kotabaru, Balangan, Tabalong, Kabupaten Banjar nihil): Banjarbaru: 12, Tanah Bumbu dan Tanah Laut masing-masing: 3, Hulu Sungai Tengah (HST) dan Tapin masing-masing: 1 orang.
Sebaran ke-517 positif baru yang dilaporkan 13 kabupaten/kota: Banjarmasin: 120, Banjarbaru: 71, Tapin: 57, Barito Kuala: 54, Tanah Bumbu: 46, Kabupaten Banjar: 42, HSU: 31, Tanah Laut: 30, Kotabaru: 26, HST: 15, Tabalong: 14, Balangan: 9, HSS: 2 orang.
Sedangkan sebaran ke-372 kasus sembuh uang dilaporkan 19 kabupaten/kota (Banjarmasin, HSU dan Barito Kuala nihil): Kabupaten Banjar: 112, Banjarbaru: 81, Tanah Laut: 73, Tanah Bumbu: 34, Tapin: 29, HST: 15, Kotabaru: 9, Tabalong: 8, HSS: 6, Balangan: 5 orang.
Dengan data tersebut, persentase kesembuhan akibat Covid-19 di Kalsel mencapai 83,31 persen, dirawat 13,92 persen dan meninggal 2,78 persen.

Seiring dengan bertambahnya korban akibat terpapar virus corona di Bumi Lambung Mangkurat ini, warga diimbau untuk selalu mematuhi dan memberlakukan protokol kesehatan (prokes) dimanapun dan kapanpun.
Imbauan untuk memakai masker, menjaga jarak, menghindari kerumunan, rajin mencuci tangan dengan air mengalir, tentu bukan tanpa alasan. Pasalnya virus menyerang tanpa memandang status maupun usia. Bahkan ahli dibidang medis pun turut menjadi korban, hingga meninggal dunia.(oie/ilust: ist)