PELAIHARI, banuapost.co.id– Jembatan kayu ulin di
Desa Sebuhur, Kecamatan Jorong, dikeluhkan warga setempat. Selain kondisi
lantainya banyak yang rusak, hingga diganti dengan susunan kayu galam, yang
melintasinya pun terpaksa ekstra hati-hati.
Jembatan
penghubung pemukiman warga dengan kawasan perkebunan dan pertanian ini,
letaknya tepat di ujung pemukiman warga Desa Sebuhur atau tepatnya di RT 7
Dusun Suka Maju.
Belasan tahun
lalu, jembatan ini merupakan sarana vital PT Inhutani, yang memiliki ribuan
hektar lahan di dekat perbatasan Kecamatan Jorong dengan Kecamatan Panyipatan.
Sejak
aktivitas PT Inhutani menurun, jembatan tetap menjadi sarana penting warga Desa
Sebuhur untuk mendatangi ladang atau kebun sawit serta karet. Sedikitnya ada
500 hektare lahan pertanian dan 200 hektare lahan perkebunan di seberang
pemukiman.
Usuf, salah
seorang petani karet, mengaku dengan kondisi jembatan seperti saat ini, tidak
berani membawa beban berat di motornya. Sehingga warga RT 7 Desa Sebuhur itu, terpaksa
bolak-balik membawa karet hasil sadapannya.
“Pengepul
karet tidak mau mendatangi ke lokasi kebun, karena takut mobil yang dibawanya
terperosok,” kata Usuf saat dikonfirmasi Kamis (21/3).
“Selain
jembatan yang melintang di sungai Sebuhur ini, kami juga direpotkan dengan
kondisi jalan yang tidak beraspal,” tambahnya.
Sementara Mahmudin,
salah seorang petani yang memiliki sawah dan kolam di seberang jembatan,
mengaku sangat tidak terbayang kalau sampai jembatan ini tidak dapat dilewati
lagi.
“Bagaimana
kami beraktivitas di lahan yang berada di seberang sana. Apa lagi saat musim
panen tiba,” kata warga RT 11 Dusun Suka Maju itu.
Menurut
Mahmudin jalan dan jembatan ini meski berada di ujung desa, merupakan sarana
penting warga untuk berkebun dan berladang.
“Apalagi
jalan ini dapat dimanfaatkan warga jika ingin bepergian ke Desa Kandangan Lama,
Kecamatan Panyipatan,” terangnya.
Warga Sebuhur
berharap pemerintah dapat memperbaiki jalan dan jembatan tersebut. (zkl/foto: zul yunus)
