SAMPIT, banuapost.co.id– Akibat kemarau panjang, harga
sarang burung walet di Samuda, Mentaya Hilir Selatan (MHS), Kabupaten Kotim, turut
turun lantaran kwalitasnya kurang baik.
Sebelumnya, harga
sarang walet yang bersortir Rp 13 juta per kilogram. Namun dalam bulan ini,
harga menurun menjadi Rp 12 juta per kilo.
Selain kwalitas yang
kurang baik akibat kemarau panjang, alasan bos pembelinya di Pulau Jawa, seperti
Surabaya, Semarang dan Jakarta, karena menumpuknya jumlah di gudang pencucian.
“Sekarang ini pengkomsumsinya,
seperti Tiongkok, Hongkong, Thailand dan Malaysia, tengah membatasi permintaan,”
jelas Aan, warga Kelurahan Basirih Hilir, Samuda, Sabtu (24/8).
Terlebih lagi, lanjut
Aan, para pembudidayaan sarang burung wallet, khususnya wilayah kawasan pasar H
Umar Hasyim, Samuda. hampir tak bisa memanen lantaran sarang yang dioleh kurang
sempurna.
Kondisi demikian juga
akibat adanya asap dari karhutla, hingga burung-burung walet mencari makan sangat jauh.
“Kalau musim
kemarau, apalagi yang panjang di tahun ini, kita hampir tak bisa memanennya. Karena sarang
masih berpoles kecil, dan burungnya juga agak lambat menjadikannya bentuk
sarang,” imbuh Aan.
Hal senada juga
dikemukakan Suriansyah, salah satu pemilik penangkaran walet lainnya di kota yang tepat
berada di Muara Sampit itu.
Menurutnya, musim
kemarau bagi para pembudidaya yang memiliki gedung-gedung walet, panennya
memang agak terlambat.
“Biasanya para
petani penangkar sarang walet di musim hujan, panen 1- 2 bulan bisa panen.
Sekarang musim kemarau, panen 4 – 5 bulan sekali. Bentuk sarangnya kecil dan juga
berbulu,” katanya.
Meski demikian, timpal
Akhmad Nuriansyah, pembeli sarang walet, para pengepul sarang burung walet di
lokalan Samuda, Kabupaten Kotim, sekarang ini menempatkan harga untuk jenis
mangkok Rp 12 juta, sudut Rp 9 juta dan patahan Rp 8 juta per kilogramnya. (urd/foto: ist)
