Ibu Kota Negara ‘pemerintahan’ Republik Indonesia sudah
diputuskan Presiden Joko Widodo pindah ke Provinsi Kalimantan Timur, tepatnya
di dua wilayah, Panajam, Paser Utara, dan Kutai Kartanegara.
Jokowi, sapaan akrab orang nomor satu di Indonesia ini,
telah menancapkan tonggak sejarah baru dengan keputusan memindahkan ibu kota ke
luar Pulau Jawa, Senin (26/8), di Istana Negara.
Meski sebelumnya rencana Ibu Kota Negara itu sendiri,
jauh hari sudah digadang-gadang Presiden Pertama, Ir Soekarno, yakni di
Provinsi Kalimantan Tengah.
Bahkan dengan membangun Tugu Soekarno, tepatnya di Jl S
Parman, di sisi Sungai Kahayan, yang merupakan sungai terbesar di Kalimantan
Tengah.
Tugu ini memiliki ikatan sejarah dengan Sang Proklamator,
seperti dijabarkan dalam buku berjudul:
Soekarno dan Desain Rencana Ibu Kota RI di Palangka Raya. Pada tahun
pembuatannya, 17 Juii 1957, Soekarno telah menggagas pemindahan Ibu Kota
Indonesia ke kota ini.
Meski telah dicanangkan sejak puluhan tahun silam, namun
tak satupun presiden sesudahnya yang ‘tergiur’ untuk melaksanakan atau
memutuskan gagasan tersebut. Sedikitnya lima presiden berganti sejak Soeharto,
BJ Habibie, Gus Dur, Megawati dan SBY, gagasan ini pun tersimpan rapat.
Keputusan Jokowi memang tak berjalan mulus. Berbagai tanggapan
kritis dari kalangan akademisi pun bermunculan. Beberapa di antaranya, Prof David Henley dari Leiden University,
ekonom Didik Junaedi Rachbini, ekonom senior INDEF Fadhil Hasan, dan Guru Besar
Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Emil Salim.
Misalnya menurut David Henley yang fokus pada studi
kontemporer tentang Indonesia, kebijakan pemindahan ibu kota di Indonesia belum
saatnya dilakukan.
“Sebab memindahkan ibu kota, justru berpotensi melepaskan
elite politik dari realitas sosial masyarakatnya,” katanya dalam sebuah
diskusi di Jakarta, Minggu (25/8).
Di tempat yang sama, ekonom Didik Junaedi Rachbini
termasuk sosok yang kontra menyoal kepindahan ibu kota yang akan pindah ke
Kalimantan. Bahkan dia mendorong agar pemerintah mengkaji ulang dan
menyiapkannya secara matang.
Dengan lantang Didik meenyebut, pemindahan ibu kota ini
program gagah-gagahan. Begitu terpikir langsung diperintahkan.
“Ini bukan Bandung Bondowoso. Bangun ibu kota ini kan
bukan seperti bangun kontrakan. Kita nggak boleh mengelola negara seperti ini.
Ini harus dikritik, pantas dikritik,” kata Didik.
Bandung Bondowoso sendiri, merupakan cerita rakyat asal
mula Candi Prambanan. Akibat kemurkaan Joko Bandung karena cintanya
dipermainkan Roro Jonggrang setelah diminta membangun 1.000 candi hanya dalam
satu malam.
Pemerintah harus lebih sistematis menyampaikan rencana
pemindahan ibu kota. Kebijakan publik soal pemindahan ibu kota tidak dilakukan
secara sistematis, sehingga dianggap masih mentah.
Indikasi ini mengemuka ketika Ketua MPR mulai bicara
harus dipikir ulang. Ketua DPR bilang belum terima naskah akademisnya.
Sementara Kemendagri bilang ini belum matang.
Didik menilai, pemindahan ibu kota tidak akan berdampak
pada pemerataan ekonomi di Kalimantan. Karena itu presiden diingatkan, sebaiknya
mengkaji ulang pemindahan ibu kota sesuai ilmu kebijakan publik.
Memang jika ditelisik, Indonesia memang bukan menjadi
negara pertama yang memindahkan ibu kota. Dalam beberapa puluh tahun terakhir,
ada sejumlah negara yang sudah terlebih dahulu memindahkan pusat
pemerintahannya.
Misalnya Brasillia dari Kota Rio de Janeiro, Dar es
Salaam ke Dodoma (Tanzania), Karachi ke Islamabad (Pakistan), Lagos ke Abuja
(Nigeria), Almaty ke Astana (Kazakhstan), hingga Kuala Lumpur ke Putra Jaya
(Malaysia).
Namun faktanya, tidak semua pemindahan ibu kota berjalan
mulus. Berdasarkan catatan Institute for Development of Economics and Finance
(INDEF), ada beberapa bukti konkret pemindahan ibu kota berakhir dengan
kegagalan.
“Setidaknya kita bisa melihat ada empat kegagalan
fungsi ibu kota negara,” ungkap ekonom Senior INDEF, Fadhil Hasan, dalam sebuah diskusi sebelumnya.
Putra Jaya, Malaysia, meskipun ibu kota sudah berpindah
dari Kuala Lumpur, namun pegawai pemerintahan Malaysia justru tidak ikut
berpindah ke Putra Jaya karena faktor keluarga. Secara jarak, Kuala Lumpur dan
Putra Jaya pun berdekatan.
Selain itu, pemindahan ibu kota Australia ke Canberra
juga menjadi contoh konkret lainnya. Wilayah tersebut, justru sepi dan tidak
diminati penduduk setempat untuk bermukim dalam jangka waktu lama.
“Pemindahan ibu kota Seoul ke Sejong sudah
diputuskan sejak 2012. Namun sampai saat ini, prosesnya masih belum
selesai,” kata Fadhil.
Salah satu kendalanya, besarnya biaya pembangunan dan
dinamika politik domestik. Sehingga turut menghambat pembangunan ibu kota.
Sedang dikesempatan yang sama, Guru Besar Fakultas
Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia, Emil Salim menilai, upaya pemerintah
yang membandingkan pemindahan ibu kota dengan negara lain, justru salah kaprah.
Indonesia ini negara kepulauan. Ada 17.000 pulau, diapit
dua samudera dan berada di pusat lalulintas maritim. Di Brasil, bisa jalan kaki
atau naik sepeda dari Rio ke Brasilia. Kau di Indonesia apa bisa jalan kaki dari
Pulau Jawa ke Kalimantan.
“Jadi jangan disamakan negara kita dengan ibu kota
kontingen. Kita ini negara kepulauan. Mana logikanya,” tegas Emil.
Emil dengan lantang membeberkan alasannya menolak
mentah-mentah rencana pemindahan ibu kota. Menurutnya, alasan-alasan pemerintah
memindahkan ibu kota tidak masuk akal dan keliru.
Seperti diketahui, ada beberapa alasan yang menjadi
pertimbangan pemerintah memindahkan ibu kota. Salah satunya, masalah kemacetan
hingga ancaman tenggelam. Padahal kalau DKI Jakarta rusak, seharus diperbaiki.
Keputusan pemerintah memindahkan ibu kota di tengah
masalah yang menimpa Jakarta, justru seperti lari dari tanggungjawab.
Seharusnya, pemerintah menyelesaikan masalah-masalah tersebut. (yebe/aktivis media)
