Berbagai benturan yang terjadi, baik yang bersifat vertikal maupun horizontal, sering kali diawali dari kegiatan dihimpunnya massa. Sebuah aktivitas menyampaikan pendapat yang diyakini sebagai kemajuan demokrasi.
Keyakinan yang menyesatkan jika output dari kumpulan massa itu sering kali berujung pada prosesi brutal, saling serang dan saling melukai. Kondisi yang sungguh ironi di tengah pujian, Indonesia sebagai negara demokrasi ketiga terbesar di dunia setelah Amerika Serikat dan India.
Format demokrasi saat ini, disadari atau tidak, hasil perjuangan gerakan reformasi belasan tahun silam. Ternyata masih berada dalam fase belajar, tapi tidak pernah menjadi dewasa.
Berbagai produk undang-undang politik yang adapun, sebenarnya jauh lebih demokratis dari pada produk masa rezim Orde Baru. Namun pada implementasinya, belum mampu mengatur dan mengarahkan perilaku dan budaya penyampaian aspirasi yang lebih beradab.
Jika anarkisme dipertontonkan masyarakat kalangan bawah di jalanan, anarkisme dalam ucapan juga muncul dari para elite yang tidak mampu menahan syahwat kekuasaan, entah di gedung dewan maupun di layar televisi melalui talk show atau apa lah.
Bahkan beberapa elite politik maupun agama, dengan sangat vulgar mempertontonkan kemampuan mereka memobilisasi massa untuk memaksakan kehendak dengan cara-cara yang sangat jauh dari kamus peradaban manusia.
Atas nama keyakinan dan ideologi, mereka mengorbankan nilai-nilai kemanusiaan dan hukum demi sebuah pembenaran terhadap tindakan menyakiti dan menyerang pihak lain.
Sepertinya belum terhayati, Indonesia adalah sebuah negeri yang penuh warna. Semarak dengan perbedaan, dan indah dalam keberagaman. Ketidaksamaan yang mengisi struktur masyarakatnya adalah sebuah realitas sosial yang tak terbantahkan.
Kita bukanlah Korea Utara atau Selatan yang mempunyai angka homogenitas sempurna, karena mereka mempunyai ras, bahasa, dan agama yang nyaris seragam.
Namun demikian, jika kita masih percaya keberagaman warna dalam pelangi adalah sebuah keindahan, kita pun dapat meyakini keberagaman yang dimiliki masyarakat Indonesia adalah sebuah anugerah Tuhan yang harus bisa dinikmati semua elemen.
Sebagai sebuah masyarakat organik, ketidakseimbangan sekecil apa pun bagian atau elemen dari sebuah struktur masyarakat, akan mempengaruhi sistem secara keseluruhan.
Belajarlah menerima kenyataan, kita adalah bagian dari sebuah masyarakat yang sangat beragam. Karena itu jangan biarkan sampai terbelah-belah. (yebe/aktivis media)