PELAIHARI, banuapost.co.id– Pandemi Covid-19 memang membuat perekonomian sebagian besar masyarakat Indonesia terdampak. Bahkan tak sedikit perusahaan mem-PHK karyawannya atau sekadar dirumahkan sementara.
Namun bagi Deddy Purnomo, asal Kota Pelaihari, Kabupaten Tanah Laut, pandemi Covid-19 bukanlah halangan untuk merintis usaha pengolahan tahu. Ayah tiga anak ini mendirikan pabrik tahu saat pengusaha lainnya dihadapi keterpurukan.
Anggota Polri berbangkat Brigadir Kepala yang bertugas sebagai Bintara Administrasi di Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu (Bamin SPKT) Polres Tala ini, dengan tekun menggeluti pengolahan tahu yang baru dirintisnya sejak dua bulan lalu. Pabrik tahu yang dinamai Ridho Jaya 88 itu berada di Jl Basuki Rahmat, Kelurahan Angsau Pelaihari, atau tepat berada di belakang rumahnya.
Untuk menjalankan roda usahanya, Deddy merekrut 12 tenaga kerja dari bagian produksi sampai sales. Sebagian besar tenaga kerjanya merupakan orang-orang yang kehilangan pekerjaan akibat pandemi Covid-19.
Setiap hari bagian produksi menghabiskan satu sampai dua kuintal kedelai dengan hasil produksi 700 sampai 1.400 bungkus tahu. Harga jual per bungkus Rp 6.000.
Saat ini tahu kuning buatan pabrik Deddy Purnomo dipasarkan di Sungai Danau, Tanah Bumbu dan dalam kota Pelaihari.
Menurut Deddy, usaha tahunya ini bukan sebuah usaha dadakan. Melainkan sudah dipikirkan secara matang. Itulah sebabnya pabrik tahu yang diberi nama Ridho Jaya 88, dapat berjalan dan sudah dapat diterima di pasaran.
“Saya sudah melakukan hitung-hitungan untuk mendirikan pabrik tahu. Termasuk menjalin komunikasi dengan komunitas pengolah tahu,” jelas Deddy mengenai kenapa ia memilih usaha tahu, sementara perekonomian tengah terpuruk dan harga kedelai naik.
Memang diakui Deddy, saat ini para pengusaha tahu dihadapkan dengan tingginya harga kedelai. Untuk mengatasi itu, Deddy tidak mengubah ukuran tahu. Tetapi mengurang jumlah tahu per bungkus. Sebelum kenaikan kedelai, perbungkus tahu berisi 10 potong, kini 8 dengan harga jual tetap Rp 6.000 per bungkus.
Sebelumnya, Deddy Purnomo membuka usaha pengolahan tempe. Namun sejak kedelai terus mengalami kenaikan, ia mencoba beralih pada usaha pengolahan tahu. Pengolahan tahu dinilai lebih cepat produksinya dibandingkan tempe.
“Selain harga kedelai terus membumbung tinggi, proses pengolahan tempe yang memakan waktu 2 hari menjadi pertimbang kenapa saya memilih mendirikan pengolahan tahu,” beber Deddy.
Dengan usaha pengolahan tahunya ini, Deddy juga mampu membantu warga yang kehilangan pekerjaannya. Termasuk pekerja pengolahan tahu di Pulau Jawa. Beberapa pekerja yang didatangkannya merupakan tanaga siap pakai setelah diistirahatkan perusahaannya karena pandemi Covid-19.
Salim warga asal Tasikmalaya, Jawa Barat, membenarkan sebelum bergabung dengan Pabrik Ridho Jaya 88 pernah bekerja di pengolahan tahu di Bogor. Ia termasuk dari pekerja yang terpaksa dirumahkan.
“Sebelum diajak Pak Deddy ke Kalimantan, saya dulunya bekerja di pengolahan tahu di Bogor,” kata Salim yang terlihat cekatan saat memasukan cairan tahu ke cetakannya.
Pekerja di Pabrik Tahu Ridho Jaya 88 milik Bripka Deddy Purnomo ini, mendapat upah secara borongan, atau dengan estimasi sekitar Rp 3 juta per bulan. Karyawan yang bekerja sampai lima tahun akan mendapatkan reward berupa satu unit sepeda motor. (zkl/foto: zul yunus)