Sebagai negara dengan jumlah penduduk besar dan wilayah luas yang terpencar, tidak salahnya kita belajar dari berbagai negara yang sudah maju kehidupan demokrasinya. Di negeri ini entah itu pemilu-kada, baik gubernur, walikota atau bupati, konflik sering terjadi. Penyebabnya karena belum bisa menerima kekalahan!
Kondisi semacam ini bisa jadi selain akibat para politisi kita masih belum menyadari akan dirinya sebagai seorang negarawan, juga hanya memikirkan diri pribadi dan kelompoknya. Belum berfikir jauh untuk kebersamaan, persatuan dan kepentingan bangsa.
Oleh sebab itu, proses demokrasi di Amerika Serikat layak untuk dijadikan teladan. Terutama sikap kandidatnya yang luar biasa dalam memahami kehidupan berdemokrasi. Sikap yang baik telah diperlihatkan Hillary Rodham Clinton, kisaran sepuluh tahun lalu.
Senator dari New York ini menghentikan langkahnya ketika menyadari tidak bisa mengalahkan rekannya sesama dari Partai Demokrat, Barack Obama, dalam memperebutkan tiket untuk menjadi kandidat Presiden AS.
Padahal mantan ibu negara AS ini sudah berjuang selama hampir 18 bulan. Dalam 57 pertarungan, dia terpaksa menghentikan persaingannya untuk merebut kursi orang nomor satu negeri super power itu. Dan sebaliknya, mendukung Obama.
Sebagai manusia biasa, tentunya Hillary menyesal dan kecewa karena impiannya menjadi perempuan pertama Presiden AS tidak terwujud. Akan tetapi penyesalannya itu tidak dibiarkan berlarut.
Hillary lebih mengutamakan persatuan Partai Demokrat. Persatuan dan kesatuan partai lebih penting untuk menghadapi Partai Republik. Karena itu Hillary menyatakan 100 persen mendukung Obama dan bekerja keras demi kemenangan mantan pesaingnya itu.
Mencermati sikap dan tekad Hillary, jarang dilakukan para politisi kita. Proses demokrasi yang ditunjukkan Hillary mengingatkan kita akan hakikat kekuasaan yang mempesona. Kekuasaan semestinya diraih demi kemaslahatan umum, bukan demi kepentingan diri.
Dalam praktiknya, kepentingan diri lebih diutamakan karena kekuasaan memberikan hak istimewa. Karena itu, selama ini orang rela menderita demi kekuasaan. Orang rela menyingkirkan kawan demi kekuasaan. Demi kekuasaan, tidak jarang orang lupa akan segala batas: kesantunan, kepantasan, moral dan etika.
Kita berharap, para politisi negeri ini mau belajar terus mengenai tatakrama berdemokrasi yang benar. Menerima kemenangan maupun kekalahan dengan sportif, semata-mata mengutamakan persatuan dan kesatuan bangsa.
Mudah-mudahan dalam setiap pemilihan, baik itu presiden, gubernur, walikota, bupati, DPR dan DPRD, para politisi kita menyadari pentingnya kehidupan demokrasi yang baik. Sehingga tidak ada lagi konflik horizontal yang akhirnya makin membuat rakyat menderita.
Tak perlu merasa malu mencontoh kehidupan demokrasi di negara yang sudah maju, tentu saja disesuaikan dengan kondisi dan budaya bangsa yang luhur dan ramah. Semoga! (yebe/aktivis media)