PELAIHARI– Keberadaan koloni bekantan di kawasan Desa Panjaratan, Kabupaten Tanah Laut, saat ini cukup memprihatinkan. Selain terjepit di antara perkebunan kelapa sawit, primata bernama latin Nasalis Larvatus itu juga bertahan di hutan yang tipis.
Demi menjaga kelestarian bekantan di habitatnya yang tersisa, pemuda Desa Panjaratan tergerak untuk melakukan aksi penghijauan . Pemuda yang dikordinir pengurus Gerakan Hijau Pecinta Bekantan Tanah Laut atau Gahipbta, akhir pecan tadi menanam rambai padi.
Penanaman rambai padi atau Baccau Motlyana ini dilakukan di beberapa titik yang sudah ditentukan. Terutama kawasan bibir sungai yang landai dan tidak ada pepohonan.
Menurut Amrullah, Ketua Gahipbta, penghijauan kawasan bantaran Sungai Panjaratan selain untuk tempat berteduh dan makan bekantan, juga berfungsi untuk menjaga agar bibir sungai tidak abrasi.
“Kami mendampingi pemuda untuk melakukan penghijauan. Selain bermanfaat bagi lingkungan, juga sangat membantu koloni bekantan yang ada di kawasan ini,” kata Amrullah.
Koloni bekantan yang tersisa di kawasan hutan sepanjang Sungai Panjaratan sekitar 200 ekor lebih, dengan luasan hutan yang tersisa sekitar 50 hektar. Sementara di kiri kanan, terdapat perkebunan Kelapa Sawit.
Untungnya nasib bekantan di Desa Panjaratan cukup baik, karena pihak perusahaan berkomitmen tidak menggangu lagi kawasan hutan yang tersisa dan sudah berkordinasi dengan BKSDA Provinsi Kalimantan Selatan. (zkl/foto: zul yunus)