Perayaan Idul Adha 1438 H, Rabu (22/8), hendaknya menjadi momentum umat muslim lebih memperhatikan warga miskin serta memperbaiki sarana ibadah dan pendidikan yang rusak, ketimbang pergi haji dan umrah berkali-kali.
Dewasa ini ada kecenderungan umat Islam berhaji berulang kali. Sementara di sekitar tempat tinggalnya, banyak masalah kehidupan yang perlu segera diatasi. Sikap seperti itu dinilai sebagai tidak mencontoh Nabi Muhammad yang hanya satu kali berhaji walaupun ada kesempatan berkali-kali.
Barangkali apa yang terungkap di atas perlu dihayati dengan hati jernih. Karena disitulah letak hakekat perayaan Idul Adha, yaitu saling berbagi. Anak bangsa yang memiliki rezeki berlebih, secara ikhlas berbagi dengan mereka yang kekurangan untuk mengangkat harkat dan martabat bangsa ini dari belenggu kemiskinan.
Membagikan daging hewan kurban kepada kaum miskin, hanyalah salah satu wujud harafiahnya. Karena setelah daging kurban habis dikonsumsi, orang miskin kembali lagi ke habitatnya semula. Meski demikian, setidaknya ada bentuk kepedulian sosial yang sifatnya lebih abadi.
Hasil penelitian sebuah lembaga pemerintahan Arab Saudi menemukan angka fantastis dana untuk membiayai naik haji per tahun yaitu tidak kurang dari US$ 5 miliar. Jjika dirupiahkan setara Rp70-an triliun uang yang dikeluarkan oleh umat muslim diseluruh dunia.
Sementara data Organisasi Pangan Dunia (FAO) melaporkan, masih ada sekitar 830 juta orang Islam yang sangat miskin dan membutuhkan bantuan. Jika dana untuk penyelenggaraan ibdah haji, (khususnya dana ibadah haji dari mereka yang sudah pernah naik haji) dimanfaatkan untuk membantu sesama muslim yang miskin, tentu kemiskinan di dunia akan lebih cepat teratasi.
Dana itu dapat digunakan untuk membangun sarana pendidikan yang rusak, membangun sarana ibadah, pondok pesantren, memajukan pertanian dan sarana irigasi, mengembangkan peternakan, beasiswa bagi anak didik yang berprestasi, dan masih banyak lagi yang bisa dilakukan dalam konteks pengentasan kemiskinan.
Kondisi terkini di Tanah Air, ada ribuan anak bangsa yang sedang berada dalam keadaan darurat karena berbagai sebab. Bencana alam, gagal panen, penyakit menuliar, serta ada sekian puluh ribu yang terkena PHK akibat krisis keuangan global.
Mereka membutuhkan kepedulian bersama. Menolong dengan hati ikhlas adalah salah satu dari penghayatan pesan ibadah kurban yang pada hakikatnya mengandung perintah Tuhan untuk mengorbankan dan menyembelih sifat kebinatangan, seperti egois, mementingkan diri sendiri, rakus dan serakah yang dibarengi dengan kecintaan kepada Allah yang diwujudkan dalam bentuk solidaritas dan kesetiakawanan sosial.
Semangat menyembelih hewan kurban yang dagingnya harus dibagikan kepada kaum fuqara dan masakin (fakir dan miskin), jelas dimaksudkan agar terjadi solidaritas dan tolong menolong antar-anggota masyarakat. Si kaya menolong yang miskin dan sebaliknya si miskin menolong yang kaya. Sikap solidaritas ini akan mengurangi kesenjangan sosial dan menjaga suasana yang harmonis di antara sesama warga.
Perintah berkurban bagi mereka yang diberi kelebihan rezeki dan membagikan dagingnya untuk kaum miskin dan dhuafa, mengandung pesan penting ajaran Islam: Anda bisa dekat dengan Allah SWT hanya ketika Anda bisa mendekati dan menolong saudara-saudaramu yang sedang dilanda musibah dan serba berkekurangan. (yebe/aktivis media)