PALANGKA RAYA– Tahapan-tahapan pemilihan legislatif (Pileg) dan pemilihan presiden (Pilpres) 2019 sudah mulai berjalan. Pesta demokrasi ini dinilai rawan gangguan kamtibmas, terutama akibat penyebaran isu suku, agama, dan ras (SARA).
Antisipasi potensi penggunaan isu SARA dalam pesta demokrasi 2019 itu, jajaran Kanwil Kemenag Kalteng menurunkan tim penyuluh ke masyarakat.
“Rancangan program turun ke lapangan sudah disusun. Tinggal menunggu waktu yang tepat. Penyuluh bersama kepolisian daerah (polda) akan turun ke lapangan,” terang Kakanwil Kemenag Kalteng, Drs H Masrawan Mag kepada wartawan, di Palangka Raya, baru-baru ini.
Diakuinya, isu SARA merupakan hal yang sering dipakai oknum tertentu dalam upaya pemenangan perebutan kekuasaan.
“Isu itu perlu dibendung karena sangat potensial memecah persatuan dan kesatuan bangsa,” tegas mantan Kepala Kemenag Kabupaten Pulang Pisau ini.
Masrawan menyebutkan, selain menurunkan tim untuk melakukan penyuluhan, pihaknya juga menyiapkan pemuka agama untuk berpartisipasi menciptakan suasana sejuk dan damai di masyarakat melalui ceramah, tausiyah, dan khutbah di berbagai kegiatan keagamaan.
“Kami terus menyerukan kepada pemuka agama agar turut menyampaikan pesan perastuan dan kesatuan di setiap pertemuan dengan umat,” tandasnya.
Menurut Masrawan, perbedaan pandangan politik silakan, tetapi jangan sampai memecah persatuan bangsa.
“Tim pemenangan dalam Pileg dan Pilpres 2019, para kader partai, dan seluruh Caleg hendaknya mengedepankan program kerja. Jangan menggunakan isu SARA sebagai ‘jualan politik’ karena akan berdampak tidak baik bagi seluruh lapisan masyarakat,” ajak calon peraih gelar doktoral UIN Banjarmasin itu. (sar/foto: ist)