Sulit rasanya membayangkan dapat bertemu ketika transportasi dan fasilitas lainnya serba kurang dan nyaris tidak ada Dari belahan barat Indonesia ada nama Mohammad Yamin, seorang pemuda asal Sawah Lunto, Sumatera Barat, yang mewakili organisasi pemuda Sumatera, Jong Sumatranen Bond.
Sementara dari belahan Timur Indonesia, ada pemuda bernama Johannes Leimena, kelahiran Kota Ambon, Maluku, mewakili organisasi pemuda Jong Ambon. Dari Pulau Madura ada Katjasungkana, sedang Cornelis Lefrand Senduk mewakili organisasi pemuda Sulawesi, Jong Celebes.
Bayangkan bagaimana seorang Mohammad Yamin dari Sawah Lunto dapat bertemu dengan Johannes Leimena dari Ambon? Terbayangkah bagaimana seorang Katjasungkana dari Madura dapat bertemu dengan Lefrand Senduk dari Sulawesi?
Kesamaan sikap dan pandangan atas kondisi negeri ribuan pulau dalam cengkraman penjajah, membuat 71 pemuda dari penjuru nusantara yang merasa senasib untuk berkumpul.
Bukan hanya sekadar bertemu. Pemuda-pemuda yang senasib ini berdiskusi, bertukar pikiran, mematangkan gagasan. Hingga akhirnya bersepakat mengikatkan diri dalam komitmen keindonesiaan, Soempah Pemoeda.
Sembilan puluh tahun silam, tepatnya 28 Oktober 1928, di sebuah gedung yang hingga kini jadi saksi sejarah di Jl Kramat Raya, kawasan Kwitang, Jakarta Pusat, ke-71 pemuda ini berikrar diri sebagai satu nusa, satu bangsa dan satu bahasa yaitu Indonesia.
Ikrar yang sangat monumental bagi perjalanan sejarah bangsa. Komitmen untuk satu, yaitu Indonesia, 17 tahun kemudian melahirkan Proklamasi Kemerdekaan Republik Indonesia, 17 Agustus 1945.
Di arena Kongres Pemuda ke-2, pemuda lintas suku, agama dan daerah, membacakan Sumpah Pemuda . Sebagaimana dokumen sejarah, dalam kongres ini akan ditemukan daftar panitia dan peserta yang berasal dari pulau-pulau terjauh Indonesia.
Bandingkan dengan era sekarang. Sarana transportasi umum sangat mudah ditemukan. Untuk menjangkau ujung timur dan barat Indonesia hanya dibutuhkan waktu beberapa jam.
Begitupun untuk dapat berkomunikasi dengan pemuda di pelosok-pelosok negeri, cukup dengan menggunakan telepon genggam. Bahkan interaksi sosial dapat dilakukan 24 jam, kapan pun dan di mana pun.
Namun anehnya dengan berbagai macam kemudahan yang dimiliki, justru anak bangsa lebih sering berselisih paham. Mudah terpecah belah, saling mengutuk, bahkan menebar fitnah dan kebencian.
Seolah-olah dipisahkan oleh jarak yang tak terjangkau. Seperti berada di ruang isolasi yang tidak terjamah, bahkan seperti terhalang tembok yang tinggi dan tebal tak tertembus siapapun.
Padahal dengan kemudahan teknologi dan sarana transportasi seperti sekarang ini, seharusnya lebih mudah untuk berkumpul, bersilaturahim dan berinteraksi sosial.
Seharusnya pun tidak ada tempat untuk salah paham, apalagi membenci. Karena semua hal dapat dikonfirmasi dan diklarifikasi secepat mungkin hanya dalam hitungan detik. Bukan sebaliknya saling usik.
Selamat Hari Sumpah Pemuda ke-90, 28 Oktober 2018. Di tengah gegap gempitanya diskusi maupun seminar KEBANGSAAN, entah itu dihelat kaum intelektual, ormas dan partai politik, maknanya tahun berganti tahun justru makin terkikis. (yebe/aktivis media)