Masyarakat Kalimantan Selatan sudah dua tahun lebih dipimpin seorang gubernur yang ramah dan ‘beda’ dari pemimpin-pemimpin sebelumya. Dalam hal ini banyak fakta bisa dijadikan alasan untuk menyebut H Sahbirin Noor yang dilantik Presiden Joko Widodo, 12 Februari 2016, sebagai gubernur yang ramah kepada siapa pun.
Misalnya blusukan ke desa dan kampung yang belum bisa dilalui kendaraan roda empat. Paman Birin, sapaan akrab Gubernur Kalsel itu, harus berkubang lumpur dengan sepeda motor jelajahnya, trail.
Memenuhi undangan, terutama selama Bulan Ramadhan, entah itu untuk berbuka, tadarus Al Quran hingga sahur bersama di masjid atau di rumah tokoh warga, dilakukan pria kelahiran 12 November 1967 dengan suka cita. Bahkan tak jarang dengan merogah kocek untuk saling membantu.
Momentum tersebut makin memperkuat citra penyandang S1 Ilmu Sosial dan Politik Universitas Islam Kalimantan (Uniska) ini sebagai gubernur yang mencintai rakyatnya.
Begitulah, sejak terjun di ranah politik dua tahun lalu, Dirut Jhonlin Sasangga Banua ini, tampak selalu memanfaatkan situasi dan kondisi di sekelilingnya untuk menegaskan psikopolitiknya yang populis dengan bersikap dan berperilaku ramah lingkungan.
Satu contoh sikap ramah lingkungannya yang cukup menarik: ketika belum seumur jagung menjadi gubernur, pasangan hidup Hj Raudatul Jannah ini tak segan-segan masuk ke sungai hingga sampai setengah badan, untuk ikut mengangkat lumpur yang jadi penyebab pendangkalan. Mana pernah ada gubernur yang pernah melakukan hal yang sama?
Sedang kesukaannya blusukan ke berbagai pelosok yang notabene jauh dari pusat kekuasaannya, bisa juga menjadi bukti nyata sikap ramah lingkungan yang dimiliki ayah dari tiga putra itu.
Misalnya, Paman Birin mengajak jajaran pejabat tinggi untuk melihat dari dekat kawasan hutan yang sedang terbakar agar mengerti tindakan paling tepat untuk mengatasinya. Sikap ramah lingkungan itulah yang membuat alumnus S2 Universitas Putra Bangsa Surabaya ini sangat mudah mendapat simpati rakyat, terutama di lapisan akar rumput.
Hal ini logis, karena rakyat di lapisan bawah selama ini seperti hidup terlantar di kampungnya sendiri,. Hampir tak pernah didekati pemimpinnya, kecuali jika ada pemimpin yang sedang sibuk pencitraan untuk kepentingan kampanye politik.
Jika Paman Birin tetap mempertahankan psikopolitiknya, suka blusukan ke banyak pelosok untuk menemui rakyat yang perlu diperhatikan, dialah ‘Raja’ yang tak betah tinggal di ‘Istana’.
Dia akan lebih sering memakai kemeja putih dengan lengan digulung, kaos oblong, atau tetap merakyat, daripada memakai jas dan dasi yang terkesan ‘berjarak’.
Untuk konteks Indonesia sekarang, sikap tetap merakyat seorang pemimpin sangat penting ditonjolkan, mengingat wilayah Tanah Air sangat luas. Selama ini, wilayah timur atau wilayah luar Jawa terkesan sangat jauh dari Jakarta, karena pemimpinnya tidak suka blusukan dengan berbagai alasan.
Bagi rakyat Kalsel, tentu menjadi berkah tersendiri ketika memiliki pemimpin yang tak membedakan, terutama saat sedang terhimpit persaingan global yang memusingkan. Selama ini bagi rakyat kecil yang sedang susah, memang tidak mudah untuk bisa tertawa-tawa, apalagi tertawa bersama pemimpinnya. (yebe/aktivis media)