JAKARTA– Para teroris di tahun-tahun mendatang, mungkin tidak akan melakukan pola bom bunuh diri secara langsung lagi. Namun bisa saja menggunakan pesawat tanpa awak alias drone dengan dimensi kecil, tapi menimbulkan daya bunuh yang besar.
“Harganya (drone) murah dan sangat mudah digunakan,” ujar Sekretaris Utama Badan Nasional Penangulangan Terorisme (BNPT), Marsda Asep Adang S, dalam arahannya pada pembukaan rakornas organisasi tersebut di Jakarta, Senin (11/12).
Karena itu, Asep meminta seluruh pihak yang terlibat dalam upaya penanggulangan terorisme, untuk terus melakukan pemutakhiran pola penanggulangannya.
“Sebab aksi-aksi terorisme ke depan, akan semakin bervariasi, termasuk dengan memanfaatkan kemajuan teknologi,” tandas Asep.
Dengan makin canggihnya teknologi penghancur, lanjut Asep, maka pola-pola penanggulangan terorisme juga harus semakin canggih.
Sementara Kasubdit Pemberdayaan Masyarakat BNPT, Dr Andi Intan Dulung, menyebutkan, 32 FKPT se-Indonesia selama 2018 ini, telah melakukan berbagai kegiatan untuk menangkal berkembangnya paham radikalisme dan terorisme.
Salah satu kegiatan, sosialisi kepada berbagai kalangan yang diharapkan mampu meneruskannya ke masyarakat.
“Tahun depan tetap akan kita laksanakan dengan materi yang terus ditingkatkan kualitasnya. Cakupan sasaran yang diperluas, dan peserta yang diperbanyak,” imbuhnya.
Dalam kegiatan yang dipusatkan di Hotel Royal, Kuningan, Jakarta Selatan itu,dihadiri utusan Forum Koordinasi Penanggulangan Terorisme (FKPT) dari 32 provinsi se-Indonesia, termasuk Kalteng.
Utusan FKPT Kalteng terdiri dari Ketua Drs H Nurul Edy, Sekretaris Yuas Elko, Kabid Ekonomi, Sosial, Budaya, dan Hukum Dr Sabian Utsman, Kabid Pengkajian dan Penelitian Dr Nor Muslim, sertan Kabid media Massa, Sosialisasi, dan Humas, H Sutransyah. (sar/foto: ist)