Ada yang menarik jika mencemati semua bencana yang menimpa beberapa daerah di Bumi Ibu Pertiwi ini dalam bulan-bulan terakhir 2018, jika dikaitkan dengan anatomi nilai yang dimiliki anak bangsanya.
Ternyata kawasan bencana seakan-akan menjadi arena wisata. Masyarakat datang untuk menyaksikan apa yang mereka rasa dan lihat sendiri di lokasi bencana. Mereka seakan-akan ingin membandingkan antara yang di TV dan yang sebenarnya.
Masyarakat ingin mendapatkan sensasi yang sebenarnya. Ada yang membawa serta keluarga untuk melihat langsung lokasi kejadian, meski jalan licin, berlumpur dan berbatu. Mendekat untuk melihat lokasi bencana.
Jika hal itu dilakukan masyarakat yang memang berkepentingan, sah-sah saja. Namun jika dilakukan orang yang hanya sekadar melihat, maka sungguh kurang pas. Karena malah menghambat proses pencarian dan evakuasi.
Inilah yang tengah terjadi. Musibah tsunami di Banten, misalnya, berbondong warga datang hanya untuk menonton lokasi kejadian dan berselfie ria.
Sikap-sikap demikian, menunjukan warga atau masyarakat ingin merasakan sensasi saudara-saudaranya yang sedang susah. Merasakan sensasi kengerian melihat kiamat di satu tempat. Terlebih lagi dengan tayangan seperti reality show televisi.
Kondisi ini pun bisa jadi karena sebagian besar penghuni negeri ini sudah kehilangan anatomi nilai. Masyarakat tidak bisa lagi membedakan dan merasakan apa itu malu, penyesalan, kerendahan hati, kesombongan, kesusahan atau kegembiraan.
Atau ini juga sebagai cara anak bangsa memelihara daya tahan terhadap penderitaan yang bukan karena tindakan mereka. Meski sadar suatu saat mereka akan kena bencana dan ditonton.
Apakah benar bangsa kita sudah kehilangan anatomi nilai? Bisa jadi. Atau masyarakat kita saat ini sudah berbeda pandangan mengenai anatomi nilai. Atau dengan kata lain adanya persepsi yang berbeda mengenai anatomi nilai dalam suatu masyarakat.
Rasa malu, penyesalan, kerendahan hati, kesombongan, kesusahan, atau kegembiraan, digambarkan secara berbeda-beda oleh masyarakat saat ini.
Mereka yang datang mungkin punya persepsi yang berbeda. Dengan datang sudah membantu ikut merasakan kesedihan korban bencana. Padahal dengan datang saja tidak akan menyelesaikan masalah.
Sebab korban bencana membutuhkan lebih dari sekadar merasakan saja. Mereka lebih membutuhkan bantuan secara finansial dan minimal doa. (yebe/aktivis media)