Dinamika kebangsaan terus bergulir seiring dengan kian dekatnya pesta demokrasi lima tahunan, Pemilu 2019. Sehingga dampaknya pun, suhu politik ikut panas dan menegangkan.
Di antara banyak kasus mendera bangsa ini, dari paling up date dan menyita perhatian publik, penggunaan analogi atau simbol-simbol tertentu yang ‘kontroversi’ untuk menyerang lawan.
Dalam etika politik, itu wajar dan sah-sah saja. Namun dalam hal pembelajaran politik, sungguh tidak ada manfaatnya. Karena cenderung apriori dan ingin benar sendiri.
Banyak sekali istilah yang pernah dipopulerkan tokoh atau elite di negeri kepulauan ini. Seperti misalnya poco-poco, yoyo, tebar pesona, tebar kinerja, taman kanak-kanak, kampung maling, sontoloyo, muka Boyolali, genderuwo, guru korupsi dan sebagainya, hingga berujung saling lapor.
Penyataan-pernyataan kontroversial itu, sadar atau tidak ikut tercatat dalam perjalanan sejarah bangsa ini. Karena bukannya menciptakan ketenangan dan suasana kondusif, tapi malah memperkeruh suasana yang sudah keruh.
Fenomena demikian cukup memprihatinkan, karena ternyata para tokoh atau elite bangsa kurang arif dan bijaksana dalam menyampaikan berbagai statemen, komentar, dan pandangannya tentang banyak hal.
Pernyataan saling klaim, selalu mengundang polemik berkepanjangan. Berpotensi menyulut api permusuhan, fitnah, dan akhirnya menghilangkan kepercayaan yang berujung kepada instabilitas bangsa secara keseluruhan.
Mulutmu harimaumu! Itulah kata-kata yang tepat untuk melukiskan betapa pentingnya setiap penggalan kata yang terucap dari lidah. Akibat satu atau dua kata yang terucap, orang lain bisa merasa difitnah dan didzalimi. Meski maksudnya tidak untuk melukai.
Karena itu sekadar mengingatkan, siapa pun yang merasa dirinya tokoh bangsa, agar lebih berhati-hati lagi dalam mengeluarkan setiap pendapat, komentar dan pandangannya.
Sebab setiap gerak-gerik, ucapan, tindakan dan keputusan, selalu diintai hingga saat itu juga akan terpublikasi ke seantero jagad Indonesia. Tak ada alasan privasi atau perbedaan penyataan pribadi atau jabatan, yang jelas setiap kata terucap akan selalu bermakna dan bernilai.
Oleh sebab itu tokoh-tokoh bangsa di republik ini, hendaknya menyadari posisi dan konsekuensi yang harus dihadapi. Kearifan dan kebijaksanaan yang dimiliki, haruslah melebihi kearifan dan kebijaksanaan masyarakat lainnya.
Penyakit ‘kontroversial’ sedapatnya diminimalisir jika tidak mungkin dihilangkan. Sehingga ketokohannya benar-benar menjadi manfaat, pelajaran, dan rahmat bagi bangsa besar ini. (yebe/aktivis media)