“Bila-bila (sejak kapan, Red.) memperkuat tim futsal polresta,” kataku menyapa, Sabtu (22/12) siang sekitar pukul 12:30 Wita itu.
Burhani Yunus atau akrab disapa Abuk yang masih dibasahi keringat di saat jeda ketika timnya berlaga menghadapi Tim Desk Wartawan DPRD Kalsel, tak menjawab selain hanya tertawa lepas setengah terbahak.
Maklum tugas liputannya selama ini di bidang olahraga ketimbang berita-berita kriminal. Jadi agak aneh juga bagiku, bermain fulsal dalam turnamen antar desk wartawan se Kalsel memperkuat Tim Polresta, yang notabene banyak memiliki awak peliput berita-berita kriminal dari berbagai media massa itu.
Itulah penggalan komunikasi dengan adik sepupuku (ayahnya, almarhum Zainudin Yunus, bersudara dengan ibuku, Hj Noorjenah Yunus). Karena setelah itu aku pun meninggalkan arena Futsal Suria, tempat berlangsungnya Turnamen Futsal antar Desk Wartawan se-Kalsel yang digagas PWI setempat berkerjasama dengan PT Adaro, Sabtu (22/12) siang.
Ternyata saling sapa itu pun merupakan yang terakhir. Sebab beberapa jam kemudian, kabar duka yang kuterima, Burhani ‘Abuk’ Yunus, meninggal dunia.
Bahkan kabar duka itu pun kuterima setibanya di depan rumah dari adik sepupuku yang lain. Mama Butet, panggilan adik sepupuku, yang sebelumnya sempat berlari tergopoh-gopoh menghampiri.
“Bang, Bang Abuk meninggal,” ujar Mama Butet.
“Ah. Barusan aku bicara dengannya di arena Futsal Suria,” kataku.
“Betul. Di Xula Kita sudah ada beritanya,” ucap Mama Butet mencoba meyakinkanku. Di Xula Kita merupakan tempat komunikasi khusus Keluarga Besar Yunus yang di share melalui media sosial facebook.
Hanya beberapa menit setelah Mama Butet menyampaikan kabar duka itu, Hp jenis androidku pun berbunyi. Setelah dibuka aplikasi WA-nya, beberapa rekan jurnalis juga menyampaikan kabar duka itu. Informasi ternyata benar.
“Inna lillahi wa inna ilaihi raji’un. Selamat jalan ding. Semoga dengan segala amal dan ibadahmu, Allah SWT memberikan tempat yang mulia. Amin..amin..amin..(yebe/foto: ist)