Mungkinkah carut marutnya persoalan yang muncul di tengah masyarakat, hingga saling hujat dan hina menjelang pesta demokrasi lima tahunan di negeri ini, salah satunya akibat tidak dipisahkannya kehidupan beragama dan berpolitik.
Ini mengingat agama berkaitan dengan bagaimana membawa umat menuju kesejahteraan yang abadi, sebagaimana tersurat dalam setiap kitab sucinya.
Oleh karena itu, harus dipisahkan antara kepentingan menjalankan kehidupan beragama dengan kepentingan berbangsa dan bernegara. Lebih-lebih sekadar untuk merebut kekuasaan.
Sebab penghuni negeri ini terdiri dari berbagai suku, ras, agama dan budaya. Oleh karena itu dalam masyarakat yang plural, pasti ada perbedaan, persamaan dan keanekaragaman yang sangat fitrah, universal dan abadi.
Dalam masyarakat plural, senantiasa dituntut untuk hidup berdampingan dan saling menghormati. Meski dipenuhi dengan persaingan, hendaknya harus dilakukan secara sehat. Sehingga membuahkan rahmat yang penuh cinta kasih di dalam kebhinekaan.
Sudah tak menjadi rahasia umum, di dalam masyarakat Indonesia pemahaman terhadap agama masih sepotong-potong, belum menyeluruh. Sehingga menimbulkan fanatisme buta. Apalagi diberi wawasan dari tokoh agama yang pemahaman fiqihnya kurang lengkap dan merasa selalu paling benar.
Keadaan ini sering membuat persinggungan negatif antar umat bernegara. Jadi jangan heran muncul pernyataan negatif; agama menjadi sumber konflik. Konflik di sejumlah tempat disebut-sebut dipicu sentimen keagamaan. Benarkah? Jawabnya –secara tegas- tidak!
Agama bukan pula pemecah belah dan penyulut pertikaian. Tidak ada satu pun agama di muka bumi ini yang menganjurkan penganutnya untuk saling menghina, membenci, merusak, apalagi saling melukai dan membunuh.
Sumber konflik justru berawal dari kesenjangan ekonomi dan politik yang terjadi di tengah masyarakat. Para elite yang selama ini gemar menunggangi agama untuk kepentingan pribadi, pada hakikatnya telah menzalimi agamanya sebanyak dua kali.
Pertama pada saat konflik kepentingan politik, agama dibawa-bawa dan dijadikan alasan. Kedua, kesalahan melihat sebab musabab konflik yang mengakibatkan agama dimusuhi dan disisihkan dari sendi-sendi kehidupan.
Sudah saatnya kita memelihara perspektif kritis dalam memahami setiap konflik yang membawa-bawa agama. Hal itu agar akal sehat yang berbicara. Bukan nafsu kesumat dan hasrat membunuh yang terus dirawat.
Teramat banyak korban sia-sia berjatuhan akibat sikap memperalat agama. Sudah banyak pula energi terkuras untuk menyelesaikan pertikaian yang seharusnya tidak perlu terjadi.
Para tokoh agama pun perlu merumuskan konsep kritis dan terus-menerus mengampanyekan perspektif kritis dalam beragama kepada umatnya. Sebab dalam masyarakat yang masih paternalistis, seperti di negeri ini, teladan dan ketokohan memegang peranan penting. Ingat itu! (yebe/aktivis media)