Seperti
juga tradisi di kalangan etnis Tionghoa yang tinggal di belahan dunia lain, di
Indonesia Imlek biasanya disambut dengan pesta besar-besaran.
Perhelatan
ini mencakup pula rangkaian upacara keagamaan yang dilaksanakan di klenteng
atau bio. Rangkaian upacara ini biasanya diikuti acara pawai mengarak dewa-dewa
mengelilingi kota, sebelum akhirnya ditempatkan kembali di klenteng-klenteng
asalnya.
Bagi
umat Khonghucu, peringatan Imlek dipahami secara luas sebagai ‘Hari
Persaudaraan’ yang mengandaikan adanya kedamaian, cinta-kasih, keadilan, dan
lain sebagainya.
Sebab
Kongzi pernah mengingatkan: “bila diri sendiri ingin tegak (maju), maka
kita juga wajib membantu orang lain untuk tegak.”
Diingatkan
pula, di dalam persaudaraan itu seharusnya kita tidak melihatnya secara
tersekat-sekat, terkotak-kotak. Karena pada hakikatnya, menurut Kongzi, di
empat penjuru samudera, semua manusia bersaudara.
Semuanya itu perlu dilandasi cinta kasih (ren), kebijaksanaan (zhi) dan keberanian (yong), yang menjadi inti dari ajaran Kongzi atau inti dari ajaran agama Khonghucu. (yebe/bersambung)
