Jika
merunut sejarah nusantara, komunitas Tionghoa telah berada di pesisir utara
Pulau Jawa, pesisir selatan Sumatera, dan pesisir barat Kalimantan, jauh
sebelum merdekanya negeri ini.
Mereka
datang untuk berdagang, atau mencari kehidupan baru. Karena di daratan Tiongkok
pada masa itu, terjadi banyak bencana alam dan perang saudara.
Kebanyakan
fari mereka berasal dari Provinsi Hokkian atau Fujian di bagian timur daratan
Tiongkok. Mereka menamakan diri Tenglang atau orang dari Dinasti Tong dalam
dialek Hokkian.
Hidup membaur dengan mengawini perempuan
setempat, keturunannya disebut peranakan yang tidak dapat lagi berbahasa
Hokkian.
Masa
itu, bahasa Mandarin yang berasal dari Tiongkok Utara (sebutan orang Barat
untuk bahasa di zaman Dinasti Ching atau Manchu) atau bahasa Cia Im (sebutan
peranakan Tionghoa sebelum PD II), belum dikenal di Hindia Belanda.
Orang-orang
Belanda menyebut mereka Chineesen. Negeri Tiongkok disebut Chi’na. Konon
berasal dari kata Dinasti Chin. Penduduk setempat menyebut mereka orang China,
dari kata Belanda Chi’na, dan orang Jawa menyebut Cino atau Cinten.
Adakah
konotasi penghinaan dalam sebutan ini pada masa itu? Tidak ada sama sekali. Karena
orang-orang Tionghoa sendiri kadang-kadang menamakan dirinya China, sampai
kedatangan orang Tionghoa dari daratan Tiongkok secara besar-besaran mulai
pertengahan abad ke-19.
Mereka umumnya berasal dari Provinsi Kwangtung
dan Hokkian. Didatangkan Pemerintah
Hindia Belanda selaras berkembangnya paham liberalisme dan tumbuhnya
kapitalisme di Eropa.
Sengaja
didatangkan untuk memenuhi kebutuhan pemilik perkebunan dan pertambangan di negara
jajahan, termasuk di Hindia Belanda. Karena membutuhkan tenaga kerja yang
murah, loyal, dan efisien.
Berasal
dari keluarga-keluarga miskin yang hidup di perantauan, pola hidup mereka pun
sangat sederhana. Sangat hemat dan cenderung kikir.
Hal itulah yang sampai saat ini masih sering dijadikan mitos atau stereotip orang China, pelit dan egois. Sedang kata China, mengandung konotasi untuk menghina atau merendahkan dan menjadi bahan ejekan. (yebe/berbagai sumber)
