SAMPIT. banuapost.co.id– Masyarakat Sampit, Kotim, khususnya yang berada di wilayah selatan, seperti Mentaya Hilir Utara (MHU), MHS, dan Teluk Sampit, tidak hanya diterjang kabut asap akibat karhutla dan kemarau panjang, tapi juga krisis air bersih.
Krisis salah satu hajad mahluk hidup tersebut, sudah
mulai dirasakan sejak Agustus lalu. Sehingga mereka mengajukan permohonan
distribusi ke Pemkab Kotim.
“Alhamdulillah, bantuan dari pemerintah mulai berdatangan.
Meski agak terlambat, namun masyarakat senang,” Sekdes Si Ijum Raya, M Samsul
kepada banuapost.co.id, Ahad (22/9) sore di kediamannya.
Sebelumnya, lanjut Samsul, warganya sempat mengeluhkan
air bersih ini. Karena memang tidak memiliki sumbernya akibat Sungai Mentaya, maupun anak-anak sungai yang
bermuara ke sungai yang membelah Ibukota Kotim itu, sudah berasa asin.
“Keluhan sangat wajar, apalagi warga berdomisili di poros
jalan provinsi yang jauh dari sungai.
Bukankah BAB juga harus menggunakan air,” imbuh Samsul.
Sejak adanya bantuan suplai air, meski sedikit terlambat,
sambung Samsul, sedikitnya warga terbantu. Baik untuk keperluan memasak dan
minum keluarga.
Soal air bersih ini jika dicermati, bagi mereka yang
mampu bisa beli. Namun bagi yang tak berpunya dan serba kekurangan, tentunya
hanya pasrah menunggu bantuan.
Hal senada juga dikatakan Sekdes Sebamban, Wahyudi, kalau
saat ini warga Selatan sedang kesulitan air bersih, akibat kemarau panjang yang
berlangsung sudah tiga bulan dan tak pernah turun hujan.
“Pembagian dua tangki sebanyak 10 ribu liter air dan 2 truk berisi profil 5.500 liter, masih belum mencukupi kebutuhan warga yang dibagi per drum sebanyak 200 liter,” ujar Yudi, sapaan akrabnya. (urd/foto: ist)
