KOTABARU, banuapost.co.id–
Busana hasil kreativitas penggalang SMP Negeri 1 Kelumpang Barat, menjuarai
kontes busana daur ulang pada rangkaian kegiatan Temu Olahraga Pramuka dan Seni
(TOPS) 2019 di Kecamatan Sungai Durian, Kotabaru, Selasa (19/11).
Busana yang mengusung konsep Tugu Perjuangan Bungkukan,
berhasil memikat juri dan penonton yang hadir dalam kontes tersebut.
TOPS 2019 yang berlangsung meriah, merupakan agenda
tahunan. Ini merupakan helatan ke-7. Sedikitnya 23 sekolah tingkat lanjutan
pertama di kabupaten Kotabaru, ambil bagian di berbagai tangkai lomba yang
dipertandingkan.
Perancang Tugu Bungkukan, Rabiatul Fitri, mengaku terinspirasi
dengan tugu yang berada di Desa Bungkukan, Kecamatan Kelumpang Barat. Karena
selain menjadi simbol perjuangan masa penjajahan, juga memiliki nilai historis.
“Kami sengaja mengangkat tema ini sebagai bentuk kearifan
lokalitas kami, sekaligus melestarikan nilai-nilai
histori perjuangannya. Karena itu kami membuat miniature tugu dalam desain
busana kami,” ujar Fitri usai menerima penghargaan.
Tugu yang memiliki kembaran di Kandangan, HSS, lanjut Fitri,
merupakan prasasti sejarah perlawanan terhadap Belanda di bawah kepemimpinan
pahlawan nasional Hasan Basri.
Rancangan busana hasil pengolahan barang bekas,
mengkombinasikan limbah anorganik berupa plastik dan kertas koran. Busana ini
dipadankan dengan berbagai asesoris dari bahan kulit kacang tanah.
“Kami sengaja memilih kacang tanah, karena merupakan
holtikultura unggulan Bungkukan,” ucapnya.
Seperti yang diketahui, kacang asal Bungkukan memiliki
kualitas tinggi. Hingga kini memenuhi permintaan pasar di Kalsel dan di
Kaltim.
Fitri mengaku membutuhkan waktu lebih dari 20 hari untuk
menyelesaikan rancangan busana tersebut. Bahan baku seluruhnya dihimpun dari
sampah di lingkukan sekolah.
Bersama timnya, limbah yang dihimpun dirajut satu per satu
hingga menjadi kesatuan. “Dibutuhkan kesabaran dan
keuletan, karena beberapa bahan berukuran sangat kecil. Sehingga perlu
kejeliaan untuk mengkombinasikannya,” imbuhnya.
Rancangan busana ini, sambung Fitri, sedianya tidak hanya
sebatas kompetisi. Namun diharapkan menginspirasi siswa agar lebih meningkatkan
kreativitas dalam memanfaatkan limbah sampah menjadi produk yang memiliki nilai
guna. (uza/foto: ist)
