PELAIHARI, banuapost.co.id– Kepekaan penghuni kantor Dinas Sosial Kabupaten Tanah Laut, instansi yang tak hanya sibuk ketika bencana, dipertanyakan.
Bagaimana tidak!. Daerah yang notabene jadi acuan untuk
mengajukan anggaran, masih ada warganya yang terlantar. Bahkan dirantai. Anehkan
kalau orang-orang dinas sosial tidak tahu.
Padahal keberadaan orang gila, anak atau orang dewasa
terlantar, negara dalam hal ini dinas sosial, harus hadir untuk memberinya
perhatian.
Tidak adanya perhatian dari negara itulah yang kini
dialami Aini (35), warga Dusun 5 Kampung Piyungan, Desa Swarangan.
Aini sudah beberapa bulan terakhir terpaksa dirantai
keluarganya di dalam rumah. Putra bungsu dari lima bersaudara itu, mengalami
gangguan jiwa sejak berusia 15 tahun.
Padahal sempat dua kali dibawa ke RS Jiwa Sambang Lihum.
Namun masih sering kambuh. Karena ketiadaan dana dan merasa bolak-balik tidak
juga membaik, akhirnya pihak keluarga memilih merawatnya di dalam rumah.
Soal pilihan merantai terpaksa dilakukan, karena saat
tidak sadar Aini pernah hampir saja mencederai orang. Salah seorang warga ada
yang mengalami robek di punggung akibat ditebasnya dengan parang.
Aini tinggal bersama sang ibu yang sudah berusia 90
tahun. Ny Berlian dengan telaten merawat sang putra. Padahal Ny Berlian sendiri
untuk berjalan sudah terbungkuk-bungkuk.
Menurut Ny Berlian, bungsunya itu sebelum mengalami
gangguan jiwa, berbadan gemuk dan suka berjalan jauh.
“Badannya gemuk dan suka berjalan jauh. Namun tiba-tiba
mengalami gangguan jiwa dan sering mengamuk,” kata wanita yang pendengarannya
mulai terganggu itu.
Anang Halus, kakak Aini, membenarkan kalau adiknya itu
dulu berbadan gemuk dan kalau tidak mengalami gangguan, dapat berkomunikasi
dengan baik. Sedang kalau kena gangguan
jiwa, berubah drastis hingga tidak kenal apa-apa lagi.
“Adik saya sudah pernah kami bawa ke Sambang Lihum
sebanyak dua kali,” kata Anang Halus.
Karena masalah ekonomi dan malas bolak-balik mengantar ke
RSJ Sambang Lihum, pihak keluarga memutuskan merawatnya di rumah, meski dengan
cara dirantai.
“Kami tidak sanggup mengantar adik kami ke RSJ Sambang
Lihum. Selain karena kami sibuk dengan pekerjaan menghidupi keluarga
masing-masing, juga terbentur dana,” imbuh Anang Halus.
Anang Halus mengaku kasihan dengan nasib adiknya itu. Namun
apa daya, mereka juga harus membanting tulang mencari nafkah untuk keluarga.
“Adik kami terpaksa kami rantai, karena takut kalau
mengamuk dapat mencederai tetangga sekitar,” tutupnya. (zkl/foto: zul yunus)
