BANJARMASIN, banuapost.co.id– Sastra Banjar masa kini, selain lebih redup di banding masa lalu, juga mengalami tantangan yang lebih berat.
Karena itu, wacana pelestarian Bahasa Banjar mengemuka
dan menjadi topik utama dalam Seminar Pelestarian Bahasa dan Sastra Banjar yang
dilaksanakan UPTD Bahasa Universitas
Lambung Mangkurat (ULM) di Best Western Hotel, Sabtu (30/11)
Menurut Rustam Effendi, salah satu nara sumber, bukan
hanya redup. Bahkan Sastra Banjar kini menuju ke arah keterasingan.
“Dulu Sastra Banjar lebih bergairah. Dipakai di kampong-kampung,
diajarkan langsung secara lisan,” ujarnya.
Kondisi menuju keterasingan, lanjut Rustam, akibat kurangnya
penulis yang menulis Sastra Banjar, menjadi kendala pelestarian Bahasa
Banjar.
Menjadi penulis Sastra Banjar atau menulis dengan Bahasa
Banjar mengalami tantangan. Sehingga sastra lisan Banjar yang sangat beragam,
mengalami tantangan mempertahankanya.
“Menulis Sastra Banjar bukan hanya rugi secara finansial,
tapi juga secara idealis. Karena hanya diapresiasi pada lingkup yang kecil,
yakni masyarakat Banjar saja,” ujar Guru Besar kebahasaan ULM ini.
Meredupnya Sastra Banjar, sambung Rustam, juga
diakibatkan karena kurangnya masyarakat Banjar yang secara langsung menjadi apresiator Sastra banjar. Terlebih lagi, karya-karya Sastra Banjar yang
lahir, tidak mendapatkan penghargaan yang layak.
Salah satu indikator redupnya Sastra Banjar, menurut
Rustam, dapat dilihat dari pergeseran
arah pergerakan Sastra Banjar yang
sebelumnya bersumber dari desa ke kota secara tradisional. Sekarang berbalik
arah, dari kota ke desa. Sastra masa kini dibuat di kota oleh kalangan
intelektual, lalu disebarkan ke desa-desa.
“Dulunya, sastra itu bergerak dari desa ke kota. Dipakai
oleh orang-orang di desa lalu menyebar hingga ke kota. Sekarang sebaliknya,” tandasnya.
Hal lain yang menjadi indikator redupnya Sastra Banjar,
sambung Rustam, berkurangnya ragam
kesusastraan lisan Banjar yang kini tidak lagi dijumpai.
“Karya sastra mantra dan karmina misalnya, tidak ada lagi
digunakan. Kurang diminati, sehingga menuju kepunahan. Sekarang tersisa, hanya
pantun dan mahalabiu,” ujarnya.
Hal lain, kosa kata Bahasa Banjar saat ini terkontaminasi
bahasa lain, bahkan punah. Beberapa
kosakata tidak lagi asli, tapi mengalami interferensi sehingga mengalami
purubahan. Bahkan beberapa kosa kata sama sekali tidak pernah digunakan, baik
dalam lisan maupun tulisan.
Seminar Pelestarian Bahasa dan Sastra Banjar mendapat
apresiasi dari seluruh peserta yang hadir. 100 peserta yang terdiri dari kalangan
guru, akademisi, budayawan, peneliti, dan jurnalis, antusias mengikuti seminar
yang terbilang langka ini.
Selain Rustam Effendi, seminar ini juga mengadirkan nara sumber Ida Komalasari, Agus Suseno, Jamat T Suryanata, Hatmiati Masyud, dan Ridho Amalia. (uza/foto: ist)
