BANJARMASIN, banuapost.co.id– Minimnya perhatian pengusaha hotel, termasuk organisasinya, dalam ikut menggembangkan kawasan wisata di Provinsi Kalsel, mendapat sorotan.
Padahal pengembangan wisata yang tengah dilakukan
pemerintah di seluruh provinsi di Indonesia, termasuk di Kalsel, untuk menggali
sumber ekonomi terbarukan.
Ini selain mengingat sumber daya alam yang pasti akan
habis karena terus menerus dieksploitasi, sumber ekonomi terbarukan dapat
langsung dirasakan mafaatnya oleh masyarakat, khususnya di kawasan objek
wisata.
Sedang di Kalsel sendiri, begitu banyak objek dan destinasi
wisata yang harus dikelola dan dikembangkan. Baik itu wisata pantai maupun alam
pengunungan, agar mampu menyedot minat turis manca negara untuk berkunjung.
Sorotan ini tampaknya pun sangat beralasan. Pasalnya dari
sekian event wisata yang dihelat Pemko Banjarmasin dan Kabupaten Banjar, baik
itu kearifan lokal pasar terapung serta jukung hias dan tanglong, pengunjungnya
yang bule bisa dihitung dengan jari.
“Meski banyak juga yang berambut bule, itu anak muda lokal
yang lagi mengikuti perkembangan mode, rambut dicat,” ucap sinis Ketua Ormas
Sangga Lima, Sulaiman, yang diminta komentarnya, Ahad (29/12).
Kondisi demikian seperti tak ditampik Wagub Kalsel, H
Rudy Resnawan, yang ditemui usai menghadiri Rapat Paripurna DPRD Kalsel, Senin
(30/12).
“Ke depan, mereka (pengusaha hotel, Red.) akan kita ajak kerja sama agar memiliki andil dalam pengembangan
wisata yang ada di Provinsi Kalsel,” ujar Walikota Banjarbaru pertama dua priode
itu.
Menurut Wagub Kalsel dua priode ini, keberadaan pengusaha
hotel maupun organisasinya dalam ikut mengembangkan wisata sangat penting,
terutama di era daring (online).
“Selain promosinya lebih murah, jangkauannya pun lebih
luas dan tanpa batas,” jelasnya. (oie/foto:
ist)
